Home Kolom Makna “Hari Pahlawan” di Persimpangan Jalan

Makna “Hari Pahlawan” di Persimpangan Jalan

610
0
SHARE

Pachenews – Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya, seperti kata Bung Karno Jangan sekali-kali melupakan sejarah “Jas Merah” Artinya tidak akan melupakan sejarah suatu bangsa tersebut.Tanpa jasa mereka, kita tidak bisa menjadi bangsa dan negara Indonesia seperti sekarang.

Itulah sebabnya, sejarah bangsa ini telah mendokumentasikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah “hadiah” dari bangsa lain, melainkan hasil dari perjuangan dan pengorbanan jiwa & raga para syuhada pejuang & “founding fathers” (Bapak-Bapak Bangsa) se-Nusantara dengan aneka keragaman latar belakangnya. Mereka berjuang dan berkorban, sejak periode “merebut kemerdekaan” hingga periode kritis ketika harus “mempertahankan kemerdekaan” yang telah diproklamasikan.

Hari ini, 70 tahun yang lalu, terjadi “Peristiwa 10 November”. Peristiwa perang besar ini, terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur. Berikut latar belakangnya. Pada tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan pada tanggal 25 Oktober mereka mendarat di Surabaya. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, dan memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, di samping itu, tentara Inggris juga memeliki tujuan rahasia untuk mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya.

Berbagai perkembangan yang terjadi telah menunjukkan hal itu dan meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di berbagai daerah. Hal ini menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan beraneka-ragam badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat. Puncaknya adalah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada tanggal 30 Oktober.

Karena terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby itu, maka penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan sebuah ultimatum. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Alasannya, antara lain, Republik Indonesia sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat sebagai alat negara juga telah dibentuk. Maka, pada tanggal 10 November (pagi), tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran, dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah kapal perang. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang gugur dan luka-luka. Tetapi, perlawanan para pejuang tetap berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Pihak Inggris salah menduga bahwa Kota Surabaya bisa direbut dalam waktu tiga hari saja, salah. Mereka perlu waktu sampai sebulan!

“Peristiwa 10 November”, kini diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Hampir setiap 10 November kita selalu mengibarkan bendera satu tiang penuh. Upacara penghormatan pun dilakukan untuk memperingati hari Pahlawan. Seremonial tahunan ini menjadi satu refleksi bagi kita semua untuk mengenang jasa-jasa besar para pahlawan Indonesia yang dengan ikhlas mengorbankan segenap jiwa dan raga yang dimiliki sampai tetes darah penghabisan. Semua itu demi satu tujuan: Kemerdekaan! Merdeka dari penghisapan, merdeka dari penjajahan, dan merdeka dari penindasan kolonial.

Namun, sangat disayangkan mutu peringatan itu terasa menurun dari tahun ke tahun, terutama generasi muda. Generasi muda sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Hari Pahlawan yang selalu kita peringati hendaknya jangan hanya mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan ini. Akan sangat ironi bila memperingati hari pahlawan sebatas seremoni saja tanpa mengambil tauladan dari nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sampai saat ini belum ada jawaban mengapa hanya dengan mengandalkan senjata tua, senjata tradisional, dan bambu runcing mampu mengalahkan Belanda dan Jepang. Saat ini, dengan senjata yang jauh lebih modern dan jumlah yang banyak martabat kita direndahkan dan tidak dihargai oleh Negara lain. Kedaulatan di darat, kedaulatan di laut, kedaulatan di udara begitu mudahnya ditembus dan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Semakin banyak anak bangsa ini yang kehilangan identitas nasionalismenya. Semakin banyak anak bangsa ini kehilangan kebanggaannya sebagai orang Indonesia. Mereka lebih mengenal budaya dan kehebatan bangsa asing dibandingkan dengan budaya dan kebesaran bangsa sendiri. Bagaimana tidak, setiap hari yang mereka tonton, yang mereka tiru, yang mereka pakai, ingat adalah produk-produk asing. Minum, makan, berpakaian,perlengkapan rumah, bahkan perlengkapan sekolah pun didominasi oleh produk asing.

Kebanggaan akan kehebatan masa lalu hanyalan imajinasi yang sulit digapai oleh ketiadaan sumber dan media yang membuktikannya. Pendekatan ilmiah seolah mengaburkan sisi-sisi pendekatan sederhana yang harus disampaikan dan dikembangkan sejak dini. Jika saya bertanya kepada murid-murid pahlawan yang ada di daerah asal mereka, anak-anak hanya bisa menyebutkan satu dua orang saja bahkan banyak diantara mereka tidak bisa menyebutkan pahlawan-pahlawan yang ada di daerah asalnya.

Kenyataan di atas adalah salah satu realita titik lemah dalam mengenalkan nilai-nilai luhur bangsa ini, semakin kecil kepedulian semakin tertawa musuh-musuh ideologi bangsa kita. Langkah yang harus kita lakukan adalah bagaimana mengisi ruang kosong warisan para pahlawan dengan hal-hal yang bermanfaat tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarah perjuangan menuju hari yang indah ini. Pahlawan akan muncul setiap saat namun jangan pernah punya cita-cita untuk menjadi pahlawan. (Septian Dwi Cahyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here