Home Warta Nasional Rakornas Lesbumi PBNU: Bentuk Peradilan sejarah

Rakornas Lesbumi PBNU: Bentuk Peradilan sejarah

744
0
SHARE

PACHE NEWS – Rapat Kordinasi Lembaga seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU yang digelar 16 November 2015 di Gedung PBNU lantai 5 dihadiri oleh pengurus dari berbagai daerah. KH Mimih Haeruman, Sekjen Lesbumi PBNU yang memimpin sidang membuka peluang bagi para peserta untuk mengungkapkan gagasan, ide, pandangan, konsep, dan semua aspirasi tentang kebudayaan Islam Nusantara yang sedang mendapat sorotan tajam dari masyarakat, termasuk dari kalangan Nahdliyyin sendiri yang masih asing tentang Islam Nusantara.

KH Agus Sunyoto, Ketua Umum Lesbumi PBNU, yang memulai paparan tentang isu Islam Nusantara yang diluncurkan setelah memahami fakta perubahan luar biasa masyarakat Indonesia termasuk masyarakat Nahdliyyin yang dilanda perubahan sosial ekstrim yang disebut globalisasi, yaitu proses penghilangan identitas etnis, bahasa, budaya, agama yang bersifat lokal dan sektarian menjadi global trans-nasional. Sejumlah fakta sosial yang dikemukakan pengasuh pesantren global itu yang ditela’ah berdasar teori Samuel Huntington, Jean Baudrillard, Giovanni Arrighi, Immanuel Wallerstein, dan George Soros tentang masyarakat terbuka (open society) dilontarkanlah gagasan Islam Nusantara sebagai resistensi terhadap program globalisasi yang telah menjadikan sebagian besar rakyat Indonesia menjadi anonim dan bahkan anomie.

“Bangsa yang kehilangan identitas kultural akan kehilangan sejarah. Bangsa yang anonim yang mengalami amnesia diri karena kehilangan sejarah, akan punah dari muka bumi,” kata Kyai Agus Sunyoto mencontohkan bangsa-bangsa yang hilang dari sejarah seperti Bangsa Kurdi, Bangsa Campa, Bangsa Khazar, dan bangsa-bangsa di benua Amerika seperti Inca, Maya, Aztec.

KH Agus Sunyoto mengajukan pandangan bahwa Kapitalisme Global dalam menjalankan program globalisasi menggunakan orang-orang bayaran dari umat beragama yang dengan argumen Al-Qur’an dan Al-Hadits, gencar menghapuskan identitas budaya umat Islam di berbagai negara dunia ketiga. Dengan tudingan menjalankan praktek bid’ah, takhayul, khurafat, mistik, klenik, dan menyelewengkan agama “orang-orang bayaran” itu menghujat umat Islam yang memiliki tradisi keagamaan dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Target mereka jelas sama seperti program globalisasi menjadikan umat Islam di suatu negara tidak memiliki identitas nasional.

Rapat kordinasi diakhir dengan kesamaan visi tentang pentingnya Lesbumi menjadi motor penggerak bagi kesadaran nasional bangsa yang merdeka dan berdaulat, yang tidak akan membiarkan bangsa lain melakukan penghinaan dan penistaan dengan merendahkan harkat dan martabat Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim dan termasuk di dalamnya warga Nahdliyyin. Itu sebabnya, peserta sepakat Lesbumi PBNU membentuk tim Mahkamah Peradilan Sejarah untuk mengadili kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan oleh Bangsa Belanda terhadap Bangsa Indonesia selama ratusan tahun. “Kejahatan kulit putih itu harus dibongkar sampai ke akar! Kita adili Belanda secara ilmiah sampai dunia tahu bahwa kulit putih yang selalu memposisikan diri sebagai pahlawan HAM itu sejatinya penjahat besar kemanusiaan!” ujar Kyai Agus Sunyoto disambut kesepakatan para peserta rapat kordinasi. (PBN/Sept)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here