Home Warta Daerah Proses Berbelit-belit, Warga Keluhkan Pelayanan BPJS

Proses Berbelit-belit, Warga Keluhkan Pelayanan BPJS

682
0
SHARE

Pachenews.Pacitan – Pelayanan kesehatan bagi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kembali dikeluhkan. Persoalan tersebut berkutat pada mekanisme rujukan yang dinilai berbelit dan menyulitkan pasien. Seperti yang dialami salah seorang pejabat dilingkup Pemkab Pacitan, belum lama ini. Ia mengaku menderita penyakit hipertensi (darah tinggi). Lantaran sebagai peserta BPJS, pejabat tersebut mencoba menggunakan fasilitas kepesertaan BPJS untuk berobat. Namun apa yang dialaminya, tak seperti yang tertera pada brosur promosi. Pejabat tersebut tak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit. “Saya harus berobat ke puskesmas. Sebab diagnosa penyakit darah tinggi seperti yang saya alami, cukup ditangani di puskesmas. Kok seperti ini pelayanan di BPJS. Sangat berbeda sekali ketika masih ditangani Asuransi Kesehatan (Askes) lalu,” keluhnya, dengan meminta untuk tidak ditulis namanya, Jumat (20/11).

Pejabat bertubuh subur itu mengungkapkan, lantaran kondisi kesehatannya saat itu perlu segera ada penanganan dari tim medis, ia pun memutuskan berobat ke luar kota. Salah satu rumah sakit partikelir di Surakarta yang menjadi pilihannya. “Saya akhirnya berobat ke luar kota. Selama menjalani rawat inap, saya mendapatkan pelayanan memuaskan. Semua biaya jasa medis dan obat-obatan, gratis tidak membayar. Hanya kamar rawat inap, harus menambah karena saya dirawat di VIP Room. Sementara kepesertaan di BPJS, hanya mendapat jatah kelas I,”beber pejabat tersebut.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kepala Cabang BPJS Kabupaten Pacitan, Sutomo, mengatakan, proses rujukan peserta BPJS memang ada ketentuan aturannya. “Jadi tidak semaunya sendiri. Semua ada mekanisme dan aturannya,” katanya, secara terpisah.

Menurutnya, tidak semua diagnosa penyakit, harus ditangani pihak rumah sakit. ‎Sepanjang diagnosa tersebut bisa ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas), tidak perlu ditangani di rumah sakit. “Ada 155 diagnosa penyakit yang ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Mayoritas penyakit tersebut merupakan penyakit sederhana,” tuturnya.

Terkecuali, seandainya pada penanganan di fasilitas kesehatan tingkat pertama tidak ‎mampu, pasien baru akan dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat selanjutnya, yaitu rumah sakit. “Jadi sekali lagi, rujukan itu bukan atas permintaan sendiri. Semua itu ada prosedur dan aturannya,” jelasnya.

Lantas bagaimana dengan pasien gawat darurat? Menurut Sutomo, ada kriteria pasien dikatakan gawat darurat. Kalaupun menurut diagnosanya memang pasien tersebut masuk kategori emergency, BPJS memberikan kemudahan untuk langsung berobat ke rumah sakit. Misalnya saja, peserta BPJS yang mengalami kecelakaan dan harus segera dilakukan pertol‎ongan. “Dalam hal terjadi gawat-darurat sebagaimana kriterianya, peserta BPJS dapat langsung ditangani di rumah sakit. Namun sekali lagi, kriteria gawat darurat tersebut ada mekanismenya,” tegas Sutomo. (yun/Net/Sep).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here