Home Warta Daerah Angka Perceraian di Pacitan Nyaris Tembus Seribu Kasus

Angka Perceraian di Pacitan Nyaris Tembus Seribu Kasus

635
0
SHARE

Pachenews. Pacitan – Kasus perceraian di Kabupaten Pacitan, cukup memprihatinkan. Hingga Senin (23/11), masalah keretakan rumah tangga tersebut sudah mendekati angka seribu perkara yang ditangani Pengadilan Agama (PA) setempat. Wakil Panitera, PA Pacitan, Nasrodin, mengatakan, sejak Januari hingga tanggal 23 November ini, setidaknya sudah tercatat sebanyak 925 perkara. Dari jumlah tersebut 312 perkara diantaranya merupakan cerai talak, dan 613 cerai gugat. “Dari ratusan perkara itu, cerai talak sebanyak 387 perkara dan cerai gugat sebanyak 542 perkara, sudah diputus. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari perkara tahun 2014 yang belum terselesaikan. Yaitu sebanyak 117 perkara, baik cerai gugat maupun cerai talak,” katanya, Senin (23/11).

Menurut Nasrodin, ada beberapa hal yang melatari munculnya kasus perceraian di Pacitan. Namun mayoritas dilatari masalah ekonomi, yang tercatat sebanyak 410 perkara. Berikutnya karena tidak adanya keharmonisan sebanyak 140 perkara, gangguan pihak ketiga sebanyak 108 perkara, tidak adanya tanggung jawab sebanyak 82 perkara, cemburu sebanyak 56 perkara, cacat biologis sebanyak 18 perkara, dan krisis akhlak sebanyak 2 perkara. Sementara itu, kasus perceraian yang melibatkan aparatur pemerintah, tercatat sebanyak 24 perkara. Yaitu, cerai talak sebanyak 14 perkara dan cerai gugat sebanyak 10 perkara. “Kasus perceraian yang melibatkan aparatur pemerintah tersebut, mayoritas dilatari kehadiran pihak ketiga serta cemburu. Pada kasus ini, satu diantara pasangan suami-istri tersebut ada yang bekerja sebagai PNS, atau dua-duanya sebagai PNS,” bebernya.

Selain kasus perceraian, Pengadilan Agama Pacitan juga menerima 137 permohonan. Yang terbesar merupakan permohonan nikah dispensasi. Yaitu sebanyak 124 kasus. ‎Selebihnya ada wali adol, perubahan nama, serta perwalian. Nasrodin menjelaskan, permohonan wali adol, dikarenakan ayah dari calon mempelai perempuan tidak bersedia menjadi wali saat pernikahan, karena tidak setuju anak perempuannya dinikahi oleh lelaki yang tidak sesuai dengan pilihan orang tuanya. Sehingga Kantor Urusan Agama (KUA) pasti akan menolak prosesi pernikahan tersebut. “Pada kasus ini, calon mempelai perempuan akan mengajukan permohonan wali adol ke PA. Di Pacitan, kasus semacam ini baru tercatat sebanyak 3 permohonan yang sudah masuk ke Pengadilan Agama,” bebernya.

Lebih lanjut, Nasrodin, mengatakan, bila dibandingkan Tahun 2014, kasus perceraian di Pacitan, memang sedikit mengalami penurunan. Tahun lalu, kasus cerai talak tercatat sebanyak 382 perkara dan cerai gugat sebanyak. 683 perkara. “Secara umum, kasus perceraian menurun dibanding tahun sebelumnya,” pungkasnya. (yun/Net/Sept).

Baca juga : Tingkat Perceraian di Jatim Tertinggi di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here