Home Warta Nasional INI DUA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL UKG 2015

INI DUA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL UKG 2015

684
0
SHARE

Pachenews – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pada tahun ini mengadakan uji kompetensi guru (UKG) guna memetakan kompetensi sebagai acuan program pelatihan. Sebelumnya pada 2012, sekira 1,6 juta guru sudah pernah mengikuti UKG. Saat itu nilai rata-rata nasional yang didapat para guru adalah 4,7.

Rendahnya hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) Tahun 2015 begitu menyita perhatian publik, lebih lagi Pemerintah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Anies Baswedan menyatakan kekecewaan dan kekesalanya terhadap hasil sementara yang dicapai guru.

Melihat hasil rata-rata UKG sebelumnya yang rendah, pengamat pendidikan dari Forum Edukasi, Suparman, mengungkapkan setidaknya ada dua faktor mendasar yang memengaruhi hasil UKG para pendidik.

“Ada faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu dari guru sendiri yang memang dari segi kompetensi belum mencapai standar yang diharapkan,” ujarnya kepada media baru-baru ini.

Kendati demikian, Suparman menerangkan bahwa faktor internal yang menyebabkan nilai UKG tidak mencapai target bukan semata-mata tanggung jawab guru, melainkan juga pemerintah.

“Sedangkan faktor eksternal mencakup kemampuan guru menggunakan teknologi komputer, mengingat saat ini UKG dilakukan berbasis komputer. Banyak guru, terutama yang usianya 40 tahun ke atas kurang mahir menggunakan komputer lantaran telat kenal teknologi,” tuturnya.

Permasalahan kemampuan teknologi ini, lanjut Suparman, juga disebabkan tidak ada pelatihan terkait penggunaan teknologi. Sedangkan faktor eksternal lainnya yaitu masalah teknis, seperti soal yang tidak sesuai mata pelajaran yang diampu guru, ketidaksesuaian kurikulum, hingga soal yang mengandung bacaan yang terlalu panjang sehingga membuat pengerjaan menjadi lambat.

“Saya rasa setelah UKG perlu ada akuntabilitas pihak pembuat soal. Bisa dilakukan secara langsung atau online, bahkan jika perlu berikan kesempatan guru untuk memberi masukan,” imbuhnya.

Hasil UKG sendiri, menurut dia, tidak bisa dipakai untuk mengukur kompetensi guru secara keseluruhan. Pasalnya, hasil tersebut hanya mampu mengukur kompetensi pendagogik dan profesional, dan belum mencakup kompetensi kepribadian serta sosial.

“Untuk mengukur kompetensi guru tidak bisa dilakukan sesaat. Konsepnya juga jangan dalam bentuk tes, tetapi lebih kepada observasi. Sehingga, pemerintah jangan buru-buru mengumumkan hasil UKG karena bisa menyesatkan opini yang berkembang dalam masyarakat,” tukasnya. (Oke/Sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here