Home Warta Daerah Seminar Nasional Di STKIP Menarik, Tapi dengan Waktu Sangat Terbatas

Seminar Nasional Di STKIP Menarik, Tapi dengan Waktu Sangat Terbatas

236
0
SHARE
Foto Semnas

Pachenews. Pacitan – Seminar nasional yang dilaksanakan di STKIP PGRI Pacitan cukup menarik, tetapi waktunya sangat terbatas, apalagi dengan presentasi dilakukan oleh empat orang nara sumber secaral panel. Seminar yang dilaksanakan hari selasa 29 Desember ini dimulai dari pukul 9 dan diakhiri tepat pada jam 12.00 siang. Seminar ini lebih didominasi oleh pemaparan dari pematerinya, dan tidak banyak pertanyaan dan iteraksi dari audiens

Jalannya diskusi yang diarahnya oleh Moderator Bakti Sutopo, yang juga merupakan dosen jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP PGRI Pacitan.

Dalam seminar, Dr. Mukodi, yang merupakan doktor ilmu pendidikan, menjelaskan bahwa seminar ini penting untuk diselenggarakan untuk memberikan kesadaran bersama, mengapa kekayaan alam yang melimpah di Indonesia, ternayata tidak mampu mensejahterakan rakyat Indonesia.

Pendidikan ternyata kurang mampu menyambungkan antara kekayaan alam dengan kebutuhan rakyat, sehingga rakyat tetap miskin. Inilah yang harus menjadi perhatian semua pelaku pendidikan, dengan penajaman ilmu pendidikan dan yang lebih penting adalah pendidikan ke-Indonesiaan, agar dengan pendidikan rakyat tidak terpisahkan dari kehidupannya.

Sementara itu Prof Tatik, lebih melihat bahwa saat ini Indonesia hanya berada di kelas menengah ASEAN. Banyak aspek kehidupan rakyat Indonesia yang masih tertinggal dengan negara-negera tetangga, misalnya dalam pendidikan yang masih terkutat pada akses, padahal di negara tetangga sudah menuju peningkatan kualitas. Satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang masuk 500 besar dunia hanya UI.

Menurutnya, yang lebih menghawatirkan, etos kerja penduduk Indonesia cukup rendah, sehingga dihawatirkan dalam MEA hanya akan menjadi penonton, dan Indonesia hanya menjadi sasaran pasar, bukannya pemain. Inilah yang harus menjadi agenda penting dalam pendidikan di Indonesia, bagaimana meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia.

Sementara itu Prof Rudi, lebih melihat secara optimistis, bahwa MEA harus dipahami sebagai rumah besar, bukan sekedar pasar besar. Kita mulai beralih dari batas negera, menjadi batas kawasan, sehingga kemampuan kompetisi menjadi hal utama yang harus diperhatikan bersama. Pendidikan harus memberi peran penting dalam peningkatan kemampuan berkompetisi karena yang siap berkompetisi akan menjadi pemenang.

Menurutnya, Jepang, Korea, tidak pernah takut dengan persaingan apapun, sebagaimana kita sekarang takut dengan MEA, karena mereka telah siap bersaing. (Lis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here