Home Warta Regional HUTAN DI DUKUHSETI TETAP GUNDUL SEJAK PENJARAHAN TAHUN 1997

HUTAN DI DUKUHSETI TETAP GUNDUL SEJAK PENJARAHAN TAHUN 1997

297
0
SHARE
Hutan Dukuhseti

Pachenews. Pacitan – Hutan di Dukuhseti Pati Jawa Tengah, tetap gundul meskipun sudah dijarah dari tahun 1997. Lebih dari 2000 ha hutan tidak pernah berhasil ditanami kembali, sebagai dampak tidak jelasnya kebijakan pemerintah.

Kondisi ini berpengaruh pada kekeringan berkepanjangan yang dirasakan ribuan petani, karena sudah tidak ada mata air yang dulu mengaliri ribuan hektar sawah saat musim kemarau. Petani terpaksa mengeluarkan banyak uang untuk irigasi pompa mesin, apalagi tanaman padi sangat membutuhkan air dalam jumlah besar.

Hasan, salah seorang petani padi di desa Kembang Dukuhseti mengatakan bahwa hasil panennya terkadang tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bensin mesin pompa miliknya.

“Mau apa lagi mas, yang menggunduli hutan hanya beberapa orang, yang menerima adzab kita semua”, hasan menambahkan.

Dampak tidak langsung dari penggundulan hutan adalah terganggunya pemenuhan kebutuhan air bersih penduduk di kecamatan Dukuhseti, karena air sumur saat sekarang sudah menjadi asin, sebagai akibat dari merembesnya air laut ke daratan. Berkurangnya air bawah tanah yang banyak di sedot mesin pompa air di sawah, menjadikan air tanah kosong, kemudian air laut merembes.

Ahmad, salah seorang warga desa Ngagel menambahkan, “baru lima tahun belakangan ini mas, saya harus beli air, air sumur sudah terasa asin, gak bisa lagi untuk masak, sejak dari kecil air sumur di rumah tidak pernah asin, ini mungkin dampak dari banyaknya mesin pompa air di sawah mas”.

Pemerintah Kabupaten Pati bersama Kementrian Kehutanan semestinya memperhatikan kondisi ini, kerusakan hutan yang terjadi bertahun-tahun telah terbukti menyengsarakan ribuan penduduk yang tidak berdosa. Hampir semua penduduk di Dukuhseti berharap hutan di Dukuhseti untuk segera ditanami kembali, bukannya ditanami tanaman ketela pohon seperti yang sekarang. Pemerintah diharapkan lebih memperhatikan kesejahteraan ribuan petani, puluhan ribu penduduk, terutama berkaitan dengan ketersediaan air, dibandingkan hanya memperhatikan segelintir orang yang berkepentingan merusak hutan dan bertanam ketela pohon di hutan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here