Home Warta Daerah BUDAYA NIKAH DINI DORONG PERILAKU SEKS BEBAS DI PACITAN

BUDAYA NIKAH DINI DORONG PERILAKU SEKS BEBAS DI PACITAN

2342
0
SHARE

Pachenews. Pacitan – Peneliti perubahan sosial dari STKIP PGRI Pacitan, Fashihullisan menyampaikan bahwa dari hasil penelitiannya selama dua tahun terahir, budaya pernikahan dini merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan perilaku seks bebas di Pacitan.

Secara jelas digambarkan bahwa kehidupan sosial merupakan kehidupan yang interaksional dan saling mempengaruhi, begitu juga pada perilaku pernikahan dini yang banyak terjadi pada remaja di Pacitan berpengaruh juga pada perilaku seks bebas remaja di Pacitan.

Data penelitian menunjukkan setiap remaja sudah melihat dan berinteraksi dengan teman-temannya yang sudah melakukan pernikahan dini, baik saat tamat SD, saat SMP, maupun SMA.

Perilaku pernikahan dini ini awalnya merupakan hal yang alami, saat masyarakat belum sadar pendidikan, sebagaimana kondisi di pedesaan. Anak yang sudah tidak lagi sekolah atau sudah putus sekolah, tentu saja dianggap orang tuanya lebih baik menikah saja. Mereka selanjutnya akan menjalani proses perkenalan, interaksi intensif dengan calon suami, dan bahkan hal ini didorong dan direstui orang tua mereka sebagai tahapan pernikahan.

Sementara di sisi lain, teman-teman seusianya yang masih sekolah, tentu saja menunda pernikahan, meskipun menerima pesan dari teman-temannya yang sudah menikah atau bersiap menikah bahwa seuisanya wajar telah berinteraksi intensif dengan lawan jenis.

Remaja yang menunda pernikahan ini yang sebagian besar masih melanjutkan sekolah ikut terdorong untuk berinteraksi intensif dengan lawan jenis, sebagaimana teman mereka yang akan menikah. Tata nilai masyarakat juga tetap berkompromi dengan perilaku ini, karena toh banyak remaja yang seusia yang bersiap menikah. Atau bahkan sebagian masyarakat juga sulit membedakan mana remaja yang mau menikah, mana yang masih sekolah dan menunda menikah. Inilah yang menjadikan masyarakat mudah berkompromi dengan perilaku seks bebas yang cenderung vulgar.

Hubungan intensif dengan lawan jenis yang kita sebut pacaran tersebut, dengan kontrol longgar dari masyarakat, seringkali berdampak pada kehamilan di luar nikah, dan memaksa mereka melakukan pernikahan dini. Orang tua terpaksa menikahkan, meskipun mereka masih sekolah, karena beban sosialnya juga rendah, karena banyak anak-anak seusia anaknya yang juga sudah menikah. Kondisi ini apabila terus menerus dibiarkan akan semakin melanggengkan perilaku nikah dini dan mendorong perilaku seks bebas remaja.

“Saya yakin remaja yang tertangkap di hotel bersama pasangannya saat aparat melakukan razia, pasti akan dinikahkan, masyarakat akan cukup mengerti, karena ini sudah biasa dalam budaya yang saya ceritakan”, Fashihullisan menambahkan.

Lebih jauh, kekhawatirannya kondisi ini kurang disadari oleh para pemangku kepentingan yang berkaitan dengan remaja, baik dari pemerintah, guru maupun para pakar pendidikan. Sebagai indikator saat dipresentasikan jurnal publikasi hasil penelitian, para guru tidak lagi kaget, karena banyak siswanya yang juga menghilang karena hamil dan menikah, atau digerebek oleh masyarakat karena berbuat mesum. Hanya saja secara implisit para guru tersebut tidak menjelaskan langkah-langkah antisipasi yang realistis, sehingga tidak terus berulang.

Fashihullisan menyampaikan, “Resiko penularan HIV/AIDS semestinya menjadi lonceng peringatan bagi semua pihak untuk mengendalikan perilaku seks bebas pada remaja, karena akan menjadi media penularan yang paling efektif bersama dengan perilaku penyalahgunaan narkoba”. (Sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here