Home Nusantara Sosial Mirip Peristiwa Salim Kancil, Pengeroyokan Anak di Desa Kembang Sulit Diungkap

Mirip Peristiwa Salim Kancil, Pengeroyokan Anak di Desa Kembang Sulit Diungkap

728
0
SHARE

Pachenews.com, sulit untuk mendapatkan kesediaan kesaksian dari korban maupun saksi peristiwa pengeroyokan pada anak dibawah umur di desa Kembang. Alasan masih berkeliarannya pelaku merupakan alasan utama yang menjadikan para korban dan saksi sulit diwawancarai.

Kondisi ini juga terkonfirmasi dari Kepala Desa Kembang Juremi, yang warganya menjadi korban aksis kekerasan ini. Menurutnya para korban dan saksi masih dilingkupi oleh ketakutan, karena meskipun pihak desa Kembang telah melaporkan peristiwa tersebut, para pelaku masih bebas berkeliaran. Meskipun tidak berani menyebut nama, Juremi mendapatkan informasi bahwa terdapat peran dari penguasa di desa Dukuhseti dalam peristiwa tersebut. Bahkan informasi yang didapatkannya bahwa penguasa tersebut tidak hanya menemani, tetapi bahkan yang memegangi leher D (14 th), saat terjadi pengeroyokan.

Juremi menyadari bahwa warganya berat untuk memeberikan kesaksian dan informasi, karena penguasa di Dukuhseti tersebut, memiliki pendukung preman dalam jumlah besar dan kedekatan dengan aparat keamanan serta ekonomi yang kuat.

Tokoh masyarakat kecamatan Dukuhseti, Asmawi Hasan juga menyampaikan informasi yang hampir serupa. Dimasa lalu menurut pengalamannya, premanisme di desa Dukuhseti sangat dekat dengan aparat keamanan, dan juga dekat dengan tindakan prostitusi.

Asamawi menambahkan kemungkinkan saat sekarang telah terjadi modifikasi, saat prostitusi sudah berakhir, ada hal yang mulai diperebutkan yaitu pengelolaan hutan. Hutan di Dukuhseti yang mencapai lebih dari 2000 hektar, telah gundul sejak tahun 1997 an, dan sampai sekarang banyak diperebutkan untuk ditanami tanaman ketela pohon.

Hasil ketela pohon yang sekarang lebih dari 60 juta untuk tiap hektar, menjadikan hutan dilestarikan untuk tidak menjadi hutan, dan ini berakibat pada terjadinya mafia dalam pengelolaan hutan. Hukum rimba terjadi karena ketidak jelasan kelembagaan pengelolaan hutan, sehingga preman, kapitalis lokal dan penguasa lokal bahu membahu mengamankan dominasi mereka pada pengelolaan hutan. Nuansa kengeriaan dan premanisme merupakan upaya sederhana yang efektif untuk menakut-nakuti pihak lain, atau anggota masyarakat lain.

Asamawi tidak yakin bahwa kasus ini akan terungkap dengan jelas, pasti ada upaya manipulasi dan mentutup-nutupi. Pihaknya berharap kasus ini tidak hanya ditangani Polsek atau Polres, tetapi semestinya Polda Jawa Tengah dan Mabes Polri, melakukan penanganan. Struktur peristiwa dan konstruksi sosialnya mirip dengan peristiwa Salim Kancil, hanya saja kasusnya tidak berkaitan dengan pasir besi, tetapi penanaman ketela pohon di hutan, meskipun sama-sama berkaitan dengan pengelolaan hutan dan dominasi penguasa dan pengusaha lokal.

Ditambahkannya, bahwa apabila kasus ini tidak terselesaikan maka ekskalasi kekerasan di Dukuhseti akan meningkat lagi di masa-masa yang akan datang. Premanisme akan mendapatkan rasa percaya diri yang cukup tinggi, karena mereka memiliki cadangan keuntungan yang tinggi dari pengelolaan hutan, dan juga pada sisi lain mereka merasa mampu membajak aparat keamanan untuk melindungi upaya teror mereka pada masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here