Home Warta Regional Anak Korban Pengeroyokan dari Desa Kembang Terintimidasi

Anak Korban Pengeroyokan dari Desa Kembang Terintimidasi

1250
0
SHARE

Pachenews.com menemui bapak korban pengeroyokan di desa Kembang D (14th), yang ternyata belum ada perlindungan sama sekali dari Kepolisian maupun dari pemerintah Kabupaten Pati.

Sugiarto (38th), yang merupakan bapak dari D (14th), merasakan ketidak adilan dari pemerintah. Anaknya yang menjadi korban tindak kekerasan dari aksi teror di desa Kembang sama sekali belum mendapatkan perlindungan secara hukum maupun psikologis.

Menurutnya, D menderita luka di sekujur tubuh, kepala terluka robek 10 cm dan harus dijahit, dada terluka, kening kiri memar dan merasakan sakit berkepanjangan di kepala sehingga harus dirawat di rumah sakit lebih dari tiga hari. Luka-luka tersebut dikarenakan bacokan benda tajam di kepala, hantaman benda tumpul yang diperkirakan kayu besar dada, punggung dan kepala.

Kejadian mengerikan tersebut diawali dari saat membantu jual gorengan temannya di depan SD 1 Kembang sekitar jam 11 malam. Tiba-tiba segerombolan orang bersepeda motor dengan membawa senjata tajam melintas, menjadikan D takut dan melarikan diri. Melihat D melarikan diri, segerombolan pelaku teror justru mengejar dan memukuli D, tanpa alasan yang jelas.

Pengeroyokan dilakukan di depan rumah salah satu warga desa Kembang, dan pemilik rumah yang merupakan seorang perempuan akhirnya membantu menyelamatkan korban D, sehingga para pengeroyok menghentikan aksinya. Kemungkinan apabila tanpa diselamatkan oleh perempuan pemilik rumah, D sudah mengalami ajal karena pengeroyokan dilakukan secara sadis.

Setelah pengeroyokan tersebut korban D dibawa ke rumah sakit oleh pamannya karena dibiarkan tergeletak berdarah oleh para pengeroyok.

Setelah kejadian yang menurut Sugiarto terjadi pada hari Selasa tanggal 29 Desembar 2015, langsung dilakukan pelaporan pada Polsek Dukuhseti yang dilakukan oleh pamannya yaitu Budi Susilo. Saat pelaporan ternyata tidak diberikan STPL (Surat Tanda Penerimaan Laporan) oleh Polsek Dukuhseti.

Setelah pelaporan ke Polsek Dukuhseti belum ada tindak lanjut, akhirnya Sugiarto menghadap ke Kasat Reskrim Polres Pati pada Kamis 31 Desember 2015, dan kemudian diminta untuk meminta STPL ke Polsek Dukuhseti, sebagai bukti pelaporan.
Selanjutnya pada tanggal 2 Januari 2016 Sugiarto meminta STPL ke Polsek Dukuhseti, dan kemudian diberikan STPL yang ditandatangani AIPTU Warsono NRP 69010201 dengan nomor STPL/51/XII/2015/Jateng/Res.Pati/Sek.Dkst.

Sugiarto menyesalkan bahwa setelah anaknya keluar dari rumah sakit sampai sekarang belum ada upaya perlindungan saksi baik dari Kepolisian maupun pihak lain yang berwenang. Anaknya selama lebih dari sepuluh hari tidak dapat berangkat ke sekolah karena luka fisik maupun trauma psikologis. Lebih lanjut bapak korban cukup mengerti mengapa anaknya sangat ketakutan karena sekolahnya di SMP Negeri 2 Tayu, yang setiap hari harus melewati wilayah desa Dukuhseti yang disinyalir merupakan desa tempat pelaku pengeroyokan.

Pihaknya berharap segera dilakukan penangkapan pada seluruh pelaku, apalagi dengan pertimbangan anaknya yang masih trauma karena merasa ketakutan khawatir dikeroyok kembali.
Disadarinya, dirinya dan keluarganya bukanlah siapa-siapa yang mungkin bagi aparat keamanan dianggap tidak berarti.

Sementara di sisi lain, para pelaku teror salah satunya merupakan orang kuat di Kecamatan Dukuhseti, yang menurut banyak orang memiliki kedekatan dengan aparat keamanan. Sangat wajar bila keluarganya sulit mendapatkan keadilan dari pemerintah maupun aparat keamanan. (Lis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here