Home Warta Regional Keluarga Korban Pengroyokan Harap Polres Pati Berpijak pada Fakta

Keluarga Korban Pengroyokan Harap Polres Pati Berpijak pada Fakta

587
0
SHARE

Pachenews.com, Pati – Sugiarto, ayah dari korban Dani (14 th), korban pengeroyokan terhadap anak, berharap aparat Kepolisian berpijak pada fakta TKP dan saksi mata dalam pengungkapan kasus pengeroyokan yang terjadi pada anaknya.

Beberapa pemberitaan dan kesaksian terduga pengeroyokan yaitu Kepala Desa Dukuhseti, SKJ, memperlihatkan upaya pembelokan kronologi kejadian, sehingga opini yang berkembang seakan-akan peristiwa pengeroyokan tersebut merupakan tawuran di arena dangdut, karena Dani (14 th) berjualan di arena dangdut.

Opini lanjutan yang terus digulirkan, kehadiran SKJ dalam peristiwa pengeroyokan adalah untuk mendamaikan tawuran di dangdut tersebut. Selanjutnya klaim yang dibangun adalah sangat tidak layak apabila menjadikan SKJ tersangka pengeroyokan, apabila hanya didasarkan pada kesaksian korban dan saksi lain yang menyatakan SKJ memeganggi kerah baju korban sebelum peristiwa pengeroyokan dan pembacokan Dani (14 th).

Opini tersebut salah satunya dibangun SKJ sehingga muncul pemberitaan di MuriaNewsCom pada tanggal 2 Februari 2016 yang berjudul “Diduga Dianiaya Oknum Kades, Bocah Desa Kembang Pati Mengadu ke Dewan.

Lebih lanjut Sugiarto berharap Polisi tidak terkecoh dengan pemberitaan dan pembangunan opini tersebut, sehingga Polisi dapat melakukan pengembangan kasus dari TKP maupun saksi korban dan saksi mata kejadian.

Fakta TKP memperlihatkan bahwa Dani (14 th), dikejar oleh 20 orang pengeroyokan saat membantu berjualan gorengan di depan SD Kembang sebagaimana aktivitas yang dilakukan Dani setiap malam dan juga tidak ada pentas dangdut di tempat jualan itu. Akibat ketakutan maka Dani lari dengan mengendarai sepeda motor dan bersembunyi di depan rumah warga, tetapi tetap dikejar oleh para pengeroyok, dan kemudian di tangkap oleh Kepala Desa Dukuhseti SKJ untuk diinterogasi, dipegangi dan akhirnya di keroyok dan dibacok oleh pengikutnya.

Menurut Kepala Desa Kembang, Juremi, diperkirakan acara pentas dangdut adalah di Desa Dukusheti, yaitu di Dukuh Tanggul, bukannya di desa Kembang, sehingga semestinya pihak kepolisian juga sangat tahu dengan aktivitas itu karena pasti sudah izin.

Jarak antara Tanggul dan tempat kejadian perkara yaitu desa Kembang adalah sejauh 1 KM lebih, sehingga benar-benar peristiwa penyerangan ke desa lain, bukannya peristiwa tawuran di acara pentas dangdut, sehingga akhirnya terjadi pengeroyokan dan pembacokan pada Dani (14 th). Dani sama sekali tidak terkait dengan acara pentas dangdut di Desa Dukuhseti, karena jualannya di Desa Kembang dan ditangkap, dikeroyok serta dibacoknya juga di desa Kembang.

Sugiarto menekankan bahwa secara logis, penyerangan ke desa lain yaitu pelaku yang semua dari desa Dukuhseti ke Desa Kembang, sangat tidak mungkin dilakukan oleh satu orang, apalagi dilakukan di tengah malam. Oleh karena itulah, agar berani melakukan penyerangan dan pengeroyokan ke desa lain, diperlukan usaha bersama-sama, dan harus ada yang menggerakkan, sehingga ini cukup singkron dengan kesaksian para saksi mata, bahwa peristiwa ini dilakukan oleh sekitar 20 orang bersenjata tajam dan juga tumpul bahkan ada teriakan-teriakan “pateni wae”

Lebih jauh, opini yang menyatakan bahwa kepala desa Dukuhsti SKJ hanya melakukan upaya prefentif agar kejadian itu tidak terjadi, sepertinya mudah dipatahkan, karena SKJ-lah yang secara aktif menangkap, menanyai dan memegangi krah baju Dani, sampai akhirnya terjai pengeroyokan dan pembacokan. Fakta di TKP juga secara nyata menunjukkan bahwa setelah terjadi peristiwa pembacokan, SKJ bersama gerombolannya meninggalkan Dani (14 th) dalam kondisi berdarah dan terkapar, tanpa ada upaya menolong dari SKJ.

Sugiarto melihat hal ini sebagai suatu tindakan diluar batas peri kemanusiaan, dan sangat tidak layak dilakukan oleh aparat pemerintah, karena anaknya dibiarkan oleh SKJ dengan luka dikepala akibat pembacokan tanpa ditolong. Menurutnya kalau dia memang melakukan selayaknya seorang kepala Desa, semestinya harus segera berkoordianasi dengan menelpon Kepala Desa Kembang, atau menolong anaknya setelah menjadi korban pengeroyokan dan pembacokan. Tetapi kenyataannya kedua hal yang seharusnya dilakukan, tidak pernah dilakukan oleh SKJ, sampai anaknya ditolong oleh warga kampung untuk dibawa ke Puskesmas dan ke RSI Pati. (Lis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here