Home KE-NUan Perkaya Wawasan Agar tak Keliru Pahami Islam Nusantara

Perkaya Wawasan Agar tak Keliru Pahami Islam Nusantara

172
0
SHARE

Pacitan– Islam nusantara yang dicetuskan oleh PBNU selalu menarik untuk diperbincangkan dalam berbagai kesempatan. Baik dalam forum resmi seperti seminar ilmiah maupun dalam kajian lesehan.

Dengan ditemani seceret kopi hitam, puluhan kader Ikatan Pelajar NU ( IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri ( IPPNU) Pacitan dengan serius mendiskusikan islam nusantara sebaga upaya terus memperkaya wawasan dan intelektualitas kader.

Ketua Pengurus Komisariat Perguruan tinggi ( PKPT) IPNU Sekolah Tinggi Agama Islam NU (Stainu) Pacitan, Mawan Hedianto mengatakan, wawasan para kader tentang keislaman dan politik kebangsaan harus selalu berkembang seiring dengan berkembangnya problematika zaman. para kader tidak boleh tertinggal dengan isu-isu kekinian yang terjadi di tengah persoalan bangsa.

“Kader IPNU IPPNU harus mempunyai wawasan politik untuk membangun dan memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. tentunya dengan santun dan sesuai dengan ajaran Islam Nusantara,” katanya saat membuka diskusi di gedung MUI Pacitan, Ahad (13/3).

Pada diskusi yang bertema “Posisi politik dan budaya dalam Islam Nusantara” ini, Aktivis Lakpesdam NU Pacitan, Dani Patria Krisna, memaparkam apa itu islam nusantara, bagaimana islam nusantara menyatu dengan budaya dan kearifal lokal serta seperti apa hubunganya dengan politik kebangsaan.

Menurut Dani, salah satu definisi Islam nusantara adalah ajaran yang memegang erat kearifan lokal. Islam dibawa masuk ke indonesia, katanya, bukan hanya melalui ajaran syar’i saja, akan tetapi melalui nilai filosofistik, toleransi, kasih sayang dan menghargai budaya yang telah lama ada di nusantara. Sehingga islam dengan mudah masuk dan diterima masyarakat pribumi.

“Pelajar NU diharap lebih dalam lagi dalam menelaah konsep islam nusantara ini,” katanya.

Dani mencontohkan, di Pacitan saja, tumbuh bermacam-macam budaya lokal. Kesemuanya memiliki dasar dan nilai tersendiri. Sehingga perlu dilakukan pemahaman secara utuh agar tidak mudah memvonis budaya lokal tersebut bertentangan dengan agama. Bukan berarti budaya tersebut terdapat unsur menyekutukan tuhan.

“Memahami budaya merupakan salah satu wujud syukur kepada Allah. tanpa kita sadari selama ini kita juga kurang, bahkan tidak bersyukur akan segala nikmatnya,” imbuhnya.

Melalui kajian ini, Dani mengajak para pelajar NU mampu   menjaga dan mempelajari Islam Nusantara dalam bidang politik dan budaya, untuk menanggulangi masuknya aliran dan paham radikal di kalangan pelajar. (Amrudin/Zaenal Faizin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here