Home Kolom 56 Tahun PMII, Konsisten Mengawal kedaulatan NKRI.

56 Tahun PMII, Konsisten Mengawal kedaulatan NKRI.

270
0
SHARE

Hari ini tanggal 17 April 2015 tertapak sudah usia emas PMII. Laksana badai ujian ditengah hiruk pikuknya persoalan bangsa, PMII tetap berdiri tegak mengarungi samudera agung yang bernama Indonesia. 56 tahun untuk usia sebuah organisasi kemahasiswaan bukanlah usia muda meskipun tak dapat pula dikatakan telah tua. Dalam rentang waktu tersebut, PMII telah mewakafkan diri untuk turut serta membangun bangsa ini, memberikan kontribusi nyata dan berperan serta dalam melahirkan para pemimpin diberbagai jenjang kepemimpinan, baik kepemimpinan dalam sektor politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya.

Organisasi kemahasiswaan yang terlahir dari rahim partai Nahdlatul Ulama tersebut dideklarasikan pada 17 April 1960, organisasi yang berhaluan Ahlusunnah Wal Jamaah ini bertujuan untuk turut serta memperbaiki kondisi bangsa yang saat itu tengah dilanda kekacauan politik dan ekonomi, menyebarkan dan melestarikan faham Islam Aswaja yang melekat pada organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (karena saat ini NU bukan lagi menjadi partai) sekaligus untuk membentengi arus faham baru dikalangan mahasiswa muslim Indonesia diberbagai kampus. Tujuan mulia ini tercermin dari logonya, Perisai “bermakna sebagai pelindung atau benteng yang kokoh”,  bintang Sembilan “ bermakna sembilan arah mata angin”, warna biru “bermakna kedalaman Ilmu”, kata pergerakan “ Insan yang selalu bergerak dan berdinamika”, mahasiswa “yang berarti kaum intelektual”, Islam “Identitas Keagamaan”, dan Indonesia “yang berarti khas Indonesia, menjunjung tinggi kearifan lokal yang turun temurun dilestarikan oleh para Ulama nusantara”.

Menapak usia 56 tahun yang semakin matang dan menginjak dewasa PMII juga telah membuktikan bahwa eksistensi perjuangannya tak lapuk tergerus Zaman, hal ini dibuktikan dengan semakin besar dan luas jangkauan panji-panji PMII dalam menyentuh dan melakukan kadersasi diberbagai pelosok wilayah di Indonesia, Indikator sederhananya adalah PMII hari ini telah tersebar disekitar 260 Cabang Kota dan Kabupaten diseluruh Indonesia dengan dibawah naungan sekitar 26 koordinator cabang Provinsi, dengan jumlah kurang lebih 1,2 Juta kader.

Dalam perjalanannya mengawal kaderisasi, PMII menjadi rujukan para mahasiswa untuk menempa dan mengasah kepemimpinannya, hal ini tidak lepas dari penekanan paradigma identitas PMII. Setidaknya ada tiga identitas paradigma PMII yang menjadi ciri khas paling menonjol dibandingkan dengan organisasi kemahasiswaan lainnya, yakni identitas intelekttual, identitas ke-Islaman dan Identitas ke-Indonesiaan.

Yang pertama identitas intelektual, pemikiran adalah nyawa bagi sebuah keilmuan. Mahasiswa adalah kaum menengah keatas yang pada suatu saat akan dipersiapkan menjadi calon-calon pemimpin bangsa. Sebagai bagian integral dari komunitas masyarakat kampus, tentunya kecerdasan intelektual adalah kebutuhan mendasar bagi para calon pemimpin dimasa depan yang kelak akan memberikan sumbangsih nyata bagi Indonesia.

Yang kedua identitas ke-Islaman, Tidak dapat disangkal bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia, Islam yang menjadi ruh dari perjuangan PMII adalah Islam yang Rahmatalil Alamin, Islam yang cinta damai, Islam yang moderat, Islam yang mencintai sesama dan Islam yang ramah bukan Islam yang marah. Hal ini penting ditekankan kepada para kader PMII, apalagi dewasa ini di Indonesia marak gelombang infiltrasi faham Islam yang jauh dari koridor hakikatnya. Disinilah peran PMII dibutuhkan, dengan identitas Islamnya yang khas PMII dituntut untuk berperan aktif membendung gerakan radikalisme dan fundamentalisme dikalangan masyarakat dan mahasiswa pada khususnya.

Yang ketiga identitas ke-Indonesiaan. Rasa khas dan citra ke-Indonesiaan dalam PMII terwujud dalam pondasi asas konstitusi yakni Pancasila. PMII menjadi satu-satunya organisasi kemahasiswaan Islam yang mencantumkan Pancasila sebagai asas, ini bukan efek dari penyeragaman asas tunggal yang diterapkan oleh rezim Orde Baru namun jauh sebelum itu PMII sudah mencantumkan Pancasila sebagai asas. Dasar PMII mencantumkan Pancasila sebagai asas adalah kesadaran kolektif bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang cukup majemuk dan heterogen yang tentunya hanya dapat disatukan oleh sebuah identitas yang dapat mengkomodir kemajemukan itu sendiri. PMII melihat bahwa Pancasila yang dirumuskan oleh para bapak bangsa kita adalah sebuah penerjemahan yang amat tepat dan dalam membangun sebuah peradaban bangsa sehingga PMII pun tanpa ragu mengadopsi dan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai ruh perjuangan dan marwah gerakan.

Transfigurasi ketiga identitas inilah yang menjadi stimulus dan corak PMII dalam memberdayakan mahasiswa-mahasiswa PMII, dengan berbagai bekal perpaduan etika gerakan, kecakapan wawasan keagamaan dan keilmuan modern yang begitu luas diharapkan para kader-kader PMII dapat terus memanifestasikan kontribusi-kontribusinya dan menjadi solusi terhadap  berbagai problematika bangsa dan persoalan-persoalan ditengah masyarakat. Semangat keterbukaan dan keberpihakan PMII terhadap ketidakadilan akan semakin menjadikan PMII sebagai organisasi yang bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menapak Jejak Historis PMII dan NU

PMII dan NU adalah dua organisasi yang memiliki historical Romantic yang amat istimewa. Kita tak dapat menolak anggapan bahwa PMII adalah anak kandung yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama. Dengan berbagai kemiripan wajah identitas, kalangan awam pun seringkali menyebut bahwa PMII adalah NU. Karakter-karakter para kader PMII pun memperlihatkan kesamaan dengan para santri-santri NU seperti kedekatan perilaku komunal dan tradisional yang tak ragu ditampakkan oleh keduanya.

Hubungan mesra keduanya terus berproses dari dari masa kemasa, saat awal lahirnya PMII diakui memang PMII banyak terlibat dalam aktifitas politik karena ibu dari PMII yakni NU masih menjadi kontestan partai politik sehingga merupakan suatu kemahfuman apabila sang anak terus mendampingi bapak dalam mensukseskan visi dan misi politiknya. Maka tak dapat dibendung dan disalahkan bahwa kala itu PMII menjadi underbow partai NU dalam setiap gerak aktifitas politiknya.

Seiring bergulirnya masa dan konstelasi politik nasional yang menukik tajam, eksistensi orde lama akhirnya tumbang. Kepemimpinan nasional beralih dibawah komando Presiden Suharto dengan gerbong orde barunya, pada saat inilah kader-kader PMII mulai berfikir tentang masa depan gerakan, berfikir tentang kemandirian dan keleluasaan ruang dalam berdinamika agar tetap dapat berfikir kritis tanpa adanya pengekangan dan godaan aktifitas politik praktis.

Setelah melalui renungan dan pertimbangan yang cukup matang, lahirlah kemudian apa yang disebut “Deklarasi Munarjati” yang dicetuskan pada tahun 1972 di Kota Malang. Deklarasi munarjati adalah ikrar independensi PMII yang menyatakan PMII keluar dan memisahkan diri secara stuktural dari partai NU yang sekaligus mengakhiri keterlibatan PMII dalam aktifitas politik praktis. Keputusan ini dipandang tepat karena situasi politik pada saat itu dipandang sudah tidak relevan dengan garis perjuangan PMII, menyadari sebagai organisasi kader yang berbasis kemahasiswaan PMII harus bersikap idelalis, kreatif, ideologis, humanis, kritis tanpa embel-embel tendensi orientasi kekuasaan.

Independensi PMII meninggalkan pekerjaan rumah yang berat, musababnya PMII mengharuskan diri untuk semakin menggali karakteristik organisasi dan nilai pergerakannya. Tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai organisasi berbasis Islam Ahlusunnah Wal Jamaah, PMII semakin bertumbuh-kembang untuk memfokuskan diri kepada perekrutan dan pembinaan menyeluruh dalam dunia kemahasiswaan tanpa meninggalkan paradigma intelektual dan kritis terhadap segala problematika bangsa.

Setelah muktmar PB NU ke 33 di Jombang pada Juni 2015, Independensi PMII kembali diusik dengan kencang oleh NU. Berdalih sudah tak lagi menjadi partai politik, para muktamirin NU mengembalikan PMII ke pangkuan NU.  Para elite NU merasa gelisah dan menganggap PMII saat ini sudah menyimpang dari cita-citanya sehingga diperlukan pembinaan agar kembali lurus menegakkan cita-citanya. Tentunya hal ini sangat meresahkan para kader diberbagai daerah, dengan berbagai argumentasi pro dan kontra terhadap upaya“pemaksaan” pengembalian PMII ke struktural NU cukup menghangatkan ruang diskusi dan emosi diantara kader-kader PMII.

Penulis sendiri berpendapat gagasan pengembalian PMII menjadi struktural atau banom NU bukanlah hal yang mendesak, ada beberapa analisa sederhana yang menjadi pertimbangan penulis. Yang pertama, PMII hari ini telah beranjak dewasa. Dengan usia yang cukup matang yakni 56 tahun, PMII dirasa sudah cukup mampu untuk terus mengawal kaderisasi dan menyebarkan nafas Ahlusunnah Wal Jamaah yang merupakan bagian integral dari ideologisasi dakwah NU sehingga pengembalian PMII menjadi banom NU hanya akan mengkerdilkan ruang gerak PMII dalam melakukan kaderisasi diberbagai perguruan tinggi. Yang kedua, kompetensi PMII sudah cukup matang untuk melakukan dan membentuk pola strategi gerakan, hal ini dibuktikan dengan semakin membesarnya PMII diberbagai kawasan di Indonesia yang justru setelah lepas dari NU pada tahun 1972. Yang ketiga, meski tanpa adanya ikatan struktural tak ada yang meragukan kapasitas ke-NU-an kader-kader PMII sehingga tanpa menjadi Banom NU pun kader-kader PMII dikenal luas juga sebagai kader NU dan pada akhirnya pun mereka sendirinya akan berporses di NU, entah itu GP Anshor, Muslimat NU, Fatayat ataupun ke lembaga-lembaga semi kajian dibentuk oleh NU.

Sikap Independensi bukanlah sebuah kedurhakaan yang dilakukan oleh PMII kepada NU, bukan pula sikap pembangkangan terhadap nilai-nilai perjuangan NU. Independensi adalah bentuk pendewasaan PMII dalam menebarkan Islam Ahlusunnah Waljamaah dan bentuk ideal gerak kaderisasi yang tetap memegang teguh nilai-nilai kebangsaan demi tegak dan kokohnya  kedaulatan NKRI.

 

*Alfi Hafidh Ishaqro, M.Pd, M.Hum

Penulis adalah kandidat Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur 2016-2018.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here