Home Nusantara Sosial Sekolah Islam Gender di Nganjuk Diikuti Puluhan Kader PMII se-Jawa Timur

Sekolah Islam Gender di Nganjuk Diikuti Puluhan Kader PMII se-Jawa Timur

222
0
SHARE

Pache News, Nganjuk – Puluhan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dari berbagai komisariat se-Jawa Timur, termasuk Pacitan, Sabtu (18/2) mengikuti Sekolah Islam Gender (SIG) di kantor PCNU Nganjuk. Acara mengangkat tema aktualisasi nilai keadilan berbasis gender dalam kancah multi sektor. Acara pembukaan dimulai tadi pagi pukul 10.00 dan direncanakan berakhir pada malam nanti.

Dalam pembukaan SIG ini dihadiri oleh Majlis Pembina Cabang, Ketua IKA PMII Nganjuk, Ketua Fatayat, Ketua Umum PC PMII Nganjuk, dan Ketua Kopri PC PMII Nganjuk.

Kegiatan yang diadakan oleh Kopri PC PMII Nganjuk bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai keadilan dan persamaan gender antara laki-laki dan perempuan.

Ketua Kopri PC PMII Nganjuk Dewi Lestari dalam sambutanya menyampaikan bahwa SIG merupakan jenjang awal pengkaderan dalam kopri PMII. “Sekolah Islam Gender adalah jenjang awal pengkaderan, sehingga sebelum melanjutkan ke tingkatan yang lebih tinggi, kader kopri PMII harus terlebih dahulu mengikuti SIG,”katanya.

Di akhir sambutanya, ia menyampaikan tentang persamaan kesempatan untuk laki-laki dan perempuan. “Perempuan harus menghilangkan doktrin 3 M (masak, macak, manak) dalam dunianya, karena perempuan berhak berada didepan dan juga berhak memimpin”, pungkasnya.

Ada beberapa materi yang disampaikan dalam kegiatan ini, yaitu sarasehan gender, konsep dasar islam, fiqih perspektif perempuan, dan gender dalam perspektif islam. Yang masing-masing disampaikan oleh para pemateri yang bepengalaman di Nganjuk.

Ketua IKA PMII Nganjuk, Agus Rahman Hakim dalam sambutannya yang sekaligus membuka acara, menyampaikan bahwa pelatihan gender merupakan upaya mencari keadilan, baik keadilan dalam mencari jaringan dan sebagainya.

Ia juga berpesan agar setelah SIG Kedepannya bisa jadi lebih baik. ” saya berharap peserta SIG ini kedepannya bisa berproses dalam pergenderan dan menjadi sosok yang kritis dan aktif dalam menghadapi setiap masalah maupun hal- hal yang baru”, pungkasnya. (Fitri Wulandari/Zaenal Faizin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here