Home Figur Eyang Yahuda Lorok, Siapakah Beliau?

Eyang Yahuda Lorok, Siapakah Beliau?

2060
0
SHARE

Pache News, Ngadirojo – Pacitan memiliki cerita sejarah yang cukup panjang. Berdirinya Pacitan yang kini menginjak usia 272 tahun tidak dapat lepas dari tokoh-tokoh penting sebagai peletak dasar peradaban di Pacitan.

Selain dikenal kaya akan sejarah budayanya, Pacitan dikenal pula dengan warisan religiusnya. Salah satu peninggalan religiusnya adalah adanya makam orang-orang terpilih, seperti Kanjeng Jimat, Ki Ageng Posong, Ki Ageng Petung, hingga Eyang Yahuda.

Banyak makam orang-orang terpilih yang telah berjasa bagi keberlangsungan peradaban Pacitan, namun kurang dikenal atau bahkan tidak diketahui keberadaannya sehingga tidak ada yang memelihara atau menziarahinya.

Untung saja, di Pacitan masih banyak masyarakat yang sadar akan peninggalan leluhurnya. Hingga mereka terus menjaga dan merawatnya, salah satu makam tokoh Pacitan yang masih terjaga dengan baik adalah makam Eyang Yahuda, seorang ulama penyebar Islam di Pacitan.

Eyang Yahuda, para ulama menyebutnya dengan nama Syech Abdurrahman. Belum diketahui pasti, beliau berasal dari daerah mana. Namun yang jelas, beliau memilih daerah Lorok sebagai tempatnya berdakwah menyebarkan agama Islam. Hingga dikenal dengan sebutan Eyang Yahuda Lorok.

Ahad (19/2) siang, Pache News berkesempatan kembali mengunjungi makam Eyang Yahuda yang terletak di Dusun Margodadi, Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo.

Memasuki daerah Lorok, tim Pache News disambut dengan guyuran hujan yang cukup lebat. Pukul 12.00, sampailah di komplek masjid yang konon merupakan Masjid “Tiban”. Usai melaksanakan shalat duhur dan hujan pun reda, tim kemudian  naik ke atas bukit yang terletak sekitar 100 meter dari masjid tiban itu.

Sebelum menuju makam, terdapat gapura yang dibuat dari kayu bertuliskan “Makam Auliya Syech Yahuda”. Berdirinya gapura kecil ini menunjukkan bahwa tokoh tersebut memiliki pengaruh besar dalam menyebarkan Islam di Pacitan. Hingga masyarakat sangat mempercayai bahwa beliau merupakan seorang Wali atau kekasih Allah.

Makam Eyang Yahuda terletak di atas bukit kecil. Untuk menuju kesana,  tim harus menaiki anak tangga yang cukup licin, ketika hujan tiba.

Sesampainya di atas, terdapat beberapa tulisan yang ditujukan kepada para peziarah. Di antaranya adalah tentang larangan mengambil sesuatu dari komplek makam Eyang Yahuda.

Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menghindari ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang tanpa izin ingin mengambil sesuatu dari makam beliau. Hal ini sangat tepat sekali untuk menjaga kelestarian makam.

Di area tersebut, terdapat satu makam yang dibangun lebih tinggi dari makam lainya. Tapi belum diketahui secara pasti apakah itu adalah makam Eyang Yahuda. Selain itu,  ada pula beberapa makam tanpa keterangan nama, apakah itu makam keturunan Eyang Yahuda atau makan para muridnya. Wallahu A’lam.

Suasana sunyi menyelimuti area makam, maklum saat itu tidak ada peziarah lain, selain tim Pache News.

Saat tengah membaca surat Yasin, hujan lebat kembali turun membasahi area makam. Hingga tim memutuskan untuk berpindah ke area makam bawah yang terdapat tempat berteduhnya.

Bacaan tahlil dan doa dipanjatkan di tempat tersebut hingga hujan kembali mereda. Setelah selesai mengucapkan salam, tim kemudian turun meninggalkan area makam.

Mengingat waktu yang cukup sore dan cuaca kurang bersahabat, tim belum memiliki kesempatan untuk mewawancarai salah seorang juru kunci makam tersebut. Sebenarnya banyak yang ingin digali, mengenai siapakah sebenarnya sosok Eyang Yahuda tersebut.

Eyang Yahuda bagi masyarakat Lorok dan Pacitan pada umumnya merupakan tokoh yang sangat dihormati. Perhatian mereka terhadap jasa para leluhurnya dibuktikan dengan terus menjaga salah satu peninggalannya yang berupa Masjid Tiban dan makam Eyang Yahuda.

Saat ini semakin banyak masyarakat dari luar daerah yang menziarahi makamnya. Sangat beruntung, masyarakat Pacitan memiliki tokoh hebat seperti beliau.

Pacitan sudah berusia 272 tahun. Namun sangat disayangkan belum ada catatan sejarah yang secara khusus menulis tentang kiprahnya.  Lalu siapakah sebenarnya Eyang Yahuda itu? Ini tugas kita untuk menggalinya. (Zaenal Faizin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here