Home Kolom Agar Berpikir Seimbang, Jadikan Faham Aswaja sebagai Makanan Pokok

Agar Berpikir Seimbang, Jadikan Faham Aswaja sebagai Makanan Pokok

62
0
SHARE

Menjadi mahasiswa adalah suatu fase tertinggi dalam tingkat pendidikan, sebutan mahasiswa diperuntukkan bagi insan penimba ilmu diperguruan tinggi yang terdiri atas sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum adalah universitas. Mahasiswa dikenal karena sikap ke-intelektualan dan ke-revolusionerannya, tak heran sepanjang sejarah, mahasiswa diberbagai Negara selalu mengambil peran penting dalam sejarah suatu Negara. Misalnya, di Indonesia pada mei 1998 ratusan ribu mahasiswa berhasil mendesak presiden Soeharto untuk mundur dari jabatannya.

Gerakan yang cenderung spontanitas dikalangan aktivis radikal, khususnya mahasiswa dilakukan karena adanya kesatuan teori dan realisasi sesuai dengan refleksi tentang gerakan mahasiswa pada karya Ernest Mandel yang berjudul “Gerakan Mahasiswa Revolusioner”[1].

Refleksi gerakan mahasiswa sering didasari teori kaum kiri, disebabkan buku-buku faham kaum kiri sudah menjadi makanan pokok dikalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa yang terlalu membangga-banggakan teori sosialis sebagai metodologi utama revolusi, keunggulan apa sebenarnya yang dibanggakan dari teori kaum kiri, bahkan pencetus teori tersebut meninggal dan belum sampai bisa menyempurnakan realisasi teori tersebut.

Kebutaan atas faham aswaja lah yang seharusnya di tanggulangi, penanaman norma –norma aswaja pun seharusnya di kerahakan mulai usia dini dan sudah menjadi keprihatinan jika mahasiswa usia dini mengkonsumsi teori faham kiri dan menjadikannya dasar ideologi apalagi sampai lupa dengan yang namanya aswaja.

Menyambung itu semua, sebagai mahasiswa muslim menjadi penting untuk membangkitkan gerakan kembali menjadikan faham aswaja sebagai makanan pokok, dan menjadikan teori faham kiri itu sebagai lauknya saja. Banyak yang tidak menyadari bahwa sebenarnya teori-teori aswaja adalah teori yang paling sempurna dalam lingkup dialektika melihat dari tesis-antitesis-dan sintesis. Faham aswaja sudah mencakup keseluruhan dan sudah menjadi sintesis dari banyak faham, dikarenakan sikap kemoderatan tulen faham aswaja, toh bukti itu apa masih kurang untuk menganggap  faham aswaja itu faham sempurna?.

Banyak lagi yang mengira aswaja itu penting tapi dengan mata tertutup tanpa tahu bentuknya, tentunya kesadaran bahwa  aswaja adalah metodologi utama orang muslim itu penting dengan menjaga keeksisan sifat moderat aswaja dan menjalankan norma dan pilar aswaja sebagai metodologi utama diantaranya tawasuth, tasamuh…dll[2], contohkan KH Abdurrahman Wahid adalah salah satu tokoh revolusioner memakai teologi pembebasan yakni aswaja itu sendiri, perlu diketahui memakai faham teologi pembebasan itu lebih baik dari teori kiri.

Kesimpulannya, menjadi hal utama bagi mahasiswa muslim untuk menomerduakan bacaan-bacaan faham kiri dan mendahulukan bacaan aswaja, sebab pemberontakan yang dianggap kaum kiri itu sebagai revolusi tidak relevan sebagai dasar kita sebagai kaum muslim, sebagai mahasiswa kita harus jeli menganalisa hal dengan aswaja dikarenakan aswaja adalah pisau analisa paling tajam.

Yazid Al Busthomy, Kader PMII Pacitan

[1] Mandel,Ernest, “Gerakan Mahasiswa Revolusioner”, dilihat dari tautan http://www.marxists.org/indonesia/archive/mandel/001.htm.

[2] Santoso kristeva,Nur sayyid,” Sejarah Teologi Islam & Akar Pemikiran Ahlussunah Wal Jama’ah”,hal 151

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here