Home Kolom Strategi Penyebaran Paham Ahlussunnah Wal Jama’ah di Kampus Umum

Strategi Penyebaran Paham Ahlussunnah Wal Jama’ah di Kampus Umum

120
0
SHARE

Ahlussunnah wal jama’ah adalah sekelompok jama’ah yang mengikuti Rasulullah dan para sahabat. Di indonesia paham Aswaja di bawa oleh Walisongo dengan mengkolaborasikan dengan budaya yang ada. Pola pikir aswaja ada 4 pilar yang tercantum dalam Manhaj al fikr diantaranya adalah Ta’adul (adil), tasamuh (toleransi), tawwasuth (moderat), dan tawaazun (seimbang). Di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Aswaja dijadikan metode berfikir dan selalu diajarkan di dalam Mapaba (masa penerimaan anggota baru).

Dalam dunia kampus khususnya kampus NU mahasiswa sudah mayoritas paham dengan aswaja baik itu secara pengertiannya maupun mendalami cara gerakanya. Sebaliknya di kampus umum paham aswaja menjadi minoritas karena kebanyakan mahasiswa di kampus umum kebanyakan awam dengan aswaja karena terdoktrin oleh pekembangan zaman yang semakin maju. Karena zaman yang semakin modern membuat mahasiswa tidak begitu peduli dengan itu. Kalangan aktivis pergerakan mahasiswa islam indonesia yang merupakan mahasiswanya NU yang selalu mengadakan perekrutan anggota baru setiap tahunya kebanyakan diadakan oleh kampus-kampus NU. Maka dari itu sangat minim sekali peserta dari kampus umum karena hanya PMII yang beridiologi aswaja. Dalam lingkup kampus umum PMII kesulitan masuk karena banyak saingan dari organisasi mahasiswa lainya seperti HMI, GMNI, KAMMI, dll.

Salah satu cara awal untuk menanamkan paham aswaja di kamus umum yang dilakukan oleh PMII merekrut kader-kader dalam kampus umum. Mungkin pesertanya tidak begitu banyak di dalam forum mapaba saat materi aswaja di mana peserta dari kampus umum akan bertanya-tanya apa itu aswaja. Kemungkinan pertanyaan meraka akan dijawab oleh pemateri. Disitulah mereka tahu aswaja secara teori baik pengertian dan pola fikir. Setelah pasca Mapaba otomatis ada follow up, disitulah mereka memperdalam aswaja secara mendalam hingga mereka terdoktrin. Akhirnya setelah mereka terdoktrin dengan aswaja mereka akan menarik teman-teman kampusnya untuk mengikuti Mapaba. Secara tidak sadar perkembangan aswaja sudah separuh lebih di kampus umum.

Selain mereka didoktrin melalui teori pendampingan untuk mengajarkan aswaja dalam gerakan juga penting karena mereka pun juga mahasiswa yang suatu saat akan terjun di masyarakat secara otomatis mereka juga akan menerapkan nilai-nilai aswaja dalam kehidupan bermasyarakat. Tapi yang juga diwaspadai adalah seleksi alam karena pola pikir mereka gampang rapuh apabila terjadi konflik-konflik kecil yang terjadi di PMII otomatis jika mereka lepas dari PMII mereka juga tidak mau memikirkan aswaja.

Intinya tulisan saya tersebut mengerucut pada sebuah pendampingan kader karena kita mau menanamkan faham apapun jika tidak ada pendampingan maka tidak akan berjalan. Karena mananamkan faham aswaja juga membutuhkan waktu yang sangat lama. Otomatis membutuhkan perjuangan, pergerakakan yang panjang juga. Cara-cara di atas mulai dari Mapaba, follow up yang terus berlanjut, dan pendampingan yang terus dilakukan. Cara-cara tersebut jika dilakukan akan menghasilkan out put yang baik dan sekali lagi yang perlu di waspadai adalah seleksi alam.

Indra, Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pacitan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here