Home Kolom Kongres XIX PMII Jadi Sorotan

Kongres XIX PMII Jadi Sorotan

139
0
SHARE

Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke XIX yang diselenggarakan di kota Palu pada tanggal 15-19 Mei mendatang menjadi momentum yang sangat penting dan juga sebagai penentu keputusan resmi bahwa PMII  akan kembali menjadi Badan Otonom NU atau tidak.

Kalau melihat dinamika Muktamar NU ke-33,  soal perdebatan dikembalikannya PMII sebagai bagian struktural badan otonom NU kembali menguat, dalam Muktamar tersebut menghasilkan keputusan melalui perubahan pasal 17 ayat 6 bahwa PMII dan Kopri PMII resmi kembali menjadi Banom NU, dalam keputusan itu tentu menjadi gejolak dalam tubuh PMII. Aminudin Ma’ruf, ketua umum PB PMII memberikan keterangan kepada media dan seluruh kader dari sabang sampai meuroke  bahwa PMII tetap melalui jalur Independensi, dengan otomatis tidak bersedia masuk kedalam struktur badan otonom NU karena sebagian besar kader-kader PMII menolak kembali ke badan otonom NU.

Kongres XIX di kota Palu ini memang tidak kalah dinamisnya dengan yang sebelum-belumnya. Mengingat banyak perubahan kebijakan yang telah dibuat oleh pengurus besar PMII, seperti halnya tentang prosesi pemilihan ketua umum yang baru. Pada kongres kali ini, pemilihan ketua umum dilakukan secara kompetisi  atau terbuka. Artinya kader kader PMII yang mencalonkan menjadi ketua umum PMII dan Kopri harus melewati seleksi yang panjang yang akhirnya ditetapkan menjadi calon kandidat.

Namun yang perlu diketahui dan dicermati, menurut kabar bahwa pemilihan Ketua Umum dan Kopri akan dilakukan di awal persidangan. Selanjutnya baru dilanjutkan dengan sidang-sidang yang lain, seperti sidang Pleno, Tatib dan Komisi. Ini tentunya menjadi pertanyaan besar bagi seluruh kader PMII yang berada di cabang maupun yang lainnya, bagaimana tidak menjadi pertanyaan karena  agenda yang seharusnya sebagai puncak acara Kongres tiba-tiba ada perubahan, perubahan tersebut memang seolah-olah mempercepat agenda Kongres karena mengaca agenda Kongres yang sebelumnya memang menyita waktu yang sangat panjang sekali.

Yang pertama jika Ketua Umum, Aminudin turun di awal persidangan maka secara otomatis runtuh palu persidangan selama kongres berlangsung dan soal tensi persidangan ketika Aminudin turun dan digantikan Ketua Umum yang baru maka jelas ini keluar dari nilai-nilai demokrasi yang selama ini dijunjung tinggi oleh seluruh kader PMII. Yang tak kalah penting adalah ketika Ketua Umum sudah tidak menjabat, maka segala pertanggung jawaban  hasil sidang komisi akan serahkan kepada Ketua Umum yang baru, ini menjadi penting bagi Aminudin, karena  posisi PMII dengan NU akan ditentukan melalui sidang komisi saat kongres tersebut. Hal itu sangat tidak efisien dalam persidangan itu dan timbul pertanyaan besar?

Sebagai organisasi mahasiswa yang dilahirkan oleh beberapa aktifis muda Nahdlatul Ulama pada tanggal 17 April 1960, PMII memang selalu berjalan seiringan dengan NU, baik dalam menjaga kedaulatan dan kemerdekaaan negara Republik Indonesia ( NKRI).

Rojihan, Kader PMII Pacitan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here