Home Nusantara Seni Budaya Megengan, Ruwah, dan Ruh

Megengan, Ruwah, dan Ruh

91
0
SHARE

Pache News, Arjosari- Pagelaran seni Wayang Beber dan musik Keroncong mewarnai acara Megengan Nusantara yang diadakan oleh komunitas budaya Soko Papat betema “Nandur shalawat, ngunduh selamet”, Ahad malam (21/5) di halaman masjid Pondok Tremas Pacitan.

Sekitar seribu orang hadir, dan duduk membentuk lingkaran. Mereka disuguhi penampilan Wayang Beber klasik, asli dari Donorojo, Pacitan, yang dimainkan oleh dalang Ki Supani, dalang keturunan kelima belas dari pemilik sekaligus dalang wayang beber yang pertama.

Megengan yang oleh masyarakat Pacitan dimaknai sebagai tradisi keagamaan dalam menyambut datangnya ramadhan  ini dilakukan sebagai cara menjaga kebudayaan adi luhung. Megengan kali ini diawali dengan pembacaan tahlil dan shalawat mahallul qiyam.

“Megengan, atau megeng iku maknane akeh. Megengan artinya mapak. Opo sing dipapak? mapak bulan ramadhan. Menjemput bulan ramadhan,”kata KH Luqman Harits Dimyathi, pengasuh Pondok Tremas menjelaskan arti megengan.

Tradisi megengan sudah dilakukan sejak zaman Wali Songo. Wali Songo telah mengajarkan sebuah tradisi keagamaan yang transformatif. Proses islamisasi yang dilakukan Wali Songo bukan sekedar mengajak masyarakat masuk islam, melainkan juga mengubah struktur sosial masyarakat menuju tata sosial yang lebih adil, manusiawi dan juga berakar pada tradisi masyarakat setempat.

“Megengan sudah ada sejak zamanya Mbah Sunan Kalijaga. Megengan itu acara kumpul-kumpul. Lalu ada makanan, ketan dan lain-lain. Yang dilakukan dalam rangka menjemput bulan ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Jadi harus kita jemput,”katanya.

Megengan, lanjut Kiai Luqman, lazim dilakukan oleh masyarakat pada bulan sya’ban, tepatnya setelah hari kesepuluh. “orang jawa mengatakan bulan Ruwah. Bulan ruwah ini maknanya ruh,” jelasnya. Disebut ruwah, karena pada bulan ini masyarakat mentradisikan mengirim doa dan menziarahi makam-makam para leluhurnya. Tradisi megengan ini, imbuhnya, merupakan tradisi yang baik yang perlu untuk terus dilestarikan. “Sebab niat dan tujuanya baik, yaitu berkirim doa,”tuturnya.

Selain penampilan wayang beber klasik, hadirin juga disuguhi penampilan wayang beber kontemporer yang diamainkan oleh dalang Ganjar, dari komunitas Wayang Beber Sakbendino (WBS). Acara diakhiri dengan diskusi ringan dan ditutup dengan selametan.(Zaenal Faizin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here