Home Figur KH Abdul Manan Dipomenggolo, Sang Pelopor

KH Abdul Manan Dipomenggolo, Sang Pelopor

139
0
SHARE
Suasan peringatan Haul KH Abdul Manan di Semanten, tahun lalu

Pondok Pesantren, sebagai lembaga pendidikan asli nusantara, telah ada sejak kali pertama syiar Islam masuk Indonesia. Pola kelahiran dan berkembangnya pesantren yang khas, menjadikan lembaga pendidikan ini memiliki daya imunitas yang kuat menghadapi gelombang perubahan yang ada di sekitarnya, hingga mampu bertahan dan bersandingan dengan berbagai model dan konsep pendidikan modern yang ada saat ini.

Pondok Tremas, yang didirikan sekitar tahun 1830 oleh KH Abdul Manan, merupakan pengembangan dari pesantren yang sudah beliau rintis sebelumnya di desa kelahirannya, Semanten, Pacitan. Pengalamannya menimba ilmu bertahun-tahun di Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo, di bawah asuhan Kyai Hasan Besari, mendorong Bagus Darso (Abdul Manan muda) bertekad mengembangkan ilmunya, dengan mendirikan pesantren di tanah kelahirannya.

Perkembangan pesantren yang terus mengalami kemajuan, seiring dengan minat belajar masyarakat yang semakin besar, membuat Abdul Manan muda berpikir keras agar bisa mengembangkan kemampuannya dalam berbagai disiplin ilmu agama, dengan mencari guru atau lembaga pendidikan yang bisa memenuhi dahaga ilmu yang beliau rasakan.

Pengalamannya berinteraksi dengan sesama santri selama di pesantren Tegalsari, sekitar antara tahun 1820-1830, bergaul dengan berbagai kalangan, terutama dengan para bangsawan, seperti R. Burhan, atau lebih dikenal dengan nama gelarnya, Ki Ranggawarsita III, pujangga Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang memiliki akses dengan penguasa Karaton maupun pemerintah kolonial, memberi banyak informasi, peluang dan wacana bagi Abdul Manan muda untuk menuntut ilmu di negri manca.

Sebuah Keniscayaan, bila kemudian Abdul Manan muda dapat melanjutkan studi ke Al-Azhar, Mesir, dan menjadi generasi pemula gelombang mahasiswa dari nusantara belajar di Universitas tertua di dunia itu.

Sekitar tahun 1850, beliau belajar beberapa tahun di Al-Azhar, di bawah bimbingan Grand Syaikh Al-Azhar pada waktu itu, Syaikh Ibrahim Al-bajuri, pengarang kitab Umm Al-barahin. Tidak mengherankan bila kemudian kitab Fath Al-Mubin, yang merupakan syarah (komentar) dari kitab Umm Barahin banyak beredar dan dikaji di beberapa pesantren nusantara pada waktu itu. Jejak keberadaan beliau menuntut ilmu di Al-Azhar, terekam dengan jelas, sebagaimana diungkap dalam buku terbitan KBRI Kairo, Mesir, “Jauh di Mata Dekat di Hati; Potret Hubungan Indonesia – Mesir.” Ditemuinya Ruwak Jawi, atau semacam asrama bagi mahasiswa dari Jawi (Nusantara/Asia Tenggara), di mana KH Abdul Manan tercatat sebagai salahsatu mahasiswa yang tinggal di sana, menjadi bukti penting, bahwa perjuangan beliau hingga bisa menuntut ilmu di sana membuka mata kita semua tentang kegigihannya yang pantang menyerah dalam menuntut ilmu, sekaligus membuka jalan bagi para pelajar/santri dari nusantara belajar ke Timur Tengah. Usaha yang dilakukannya menjadikan beliau diakui sebagai peretas jejaring intelectual chains generasi ulama nusantara.

Lalu apa yang bisa kita tiru dari laku beliau dalam menuntut ilmu? Kerja keras dan riyadhoh. Sebagai manusia Jawa, segala bentuk laku dan lelaku sudah merupakan keseharian dan menjadi bagian dari kehidupan yang sudah terpola sejak dini. Berpuasa, berpantang sesuatu dan menjauhi berbagai godaan duniawi, merupakan bagian dari lelaku, demi meraih cita-cita kebahagian hidup yang diridhoi Allah swt.

Kita yang belum seberapa ilmu dan kerja kerasnya, harus berani menjalani laku yang lebih dari apa yang pernah beliau jalani, dengan ittiba’ pada laku dan jalan hidup para salafusshalih, agar mampu mengemban amanah pesantren yang telah dirintisnya.

Diambil dari tulisan akun facebook Masade Ahmad, alumni Pesantren Tremas Pacitan, sekarang berdomisili di Surakarta.

Catatan ini ditulis menjelang peringatan Haul pendiri pertama Pesantren Tremas KH Abdul Manan Dipomenggolo, Jum’at 21 Juli 2017 depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here