Home Figur Jodoh yang Tertukar

Jodoh yang Tertukar

272
0
SHARE

Siapapun tak meragukan lagi predikat Al-Alim Al-Alamah Al Faqih Al Muhaddits Al Musnid Al Muqri Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah Al-Tarmasi. Jasa besar beliau membangun jaringan ulama nusantara sejak akhir abad 19, menjadi bukti ketokohannya patut disejajarkan dengan para ulama-ulama besar dunia.

Tapi adakah yang tahu sisi lain dari kehidupan pribadi beliau yang jauh dari bayangan kita selama ini? Juga soal peruntungan jodoh yang selalu berakhir pada takdir di luar kuasa manusia?

Bicara soal kehidupannya di Makkah, keseharian beliau jauh dari cukup dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari kesederhanaan dan serba kekurangan inilah, yang kemudian menempa beliau menjadi pribadi tangguh dan unggul hingga hampir sepanjang hidupnya didedikasikan untuk ilmu dan amal.

Bagaimana dengan jodoh? Syahdan, salahsatu guru beliau di tanah Jawa, Kyai Sholeh bin Umar, atau lebih dikenal dengan Mbah Sholeh Darat, Semarang, punya harapan besar bisa mengambil menantu murid kinasihnya tersebut. Berbagai upaya dilakukan agar sang murid yang jauh berada di tanah Haram, suatu saat kembali ke tanah Jawa memenuhi keinginannya menjadi menantu.

Salahsatu bentuk harapan yang dilabuhkan oleh Mbah Sholeh adalah dengan mengirim paket berbagai keperluan dan kebutuhan hidup selama di Makah. Tujuannya tak lain sebagai bentuk pengikat agar kelak sang murid mau menerima keinginannya dijadikan menantu.

Sementara Syaikh Mahfudz yang kesehariannya sibuk bergulat dengan aktifitas keilmuan, baik belajar, mengajar maupun menulis berbagai karya ilmiyah, tak sempat menghiraukan berbagai kiriman kebutuhan yang di alamatkan kepadanya. Semua paket yang beliau terima diserahkan kepada adiknya, Syaikh Dahlan dan dimanfaatkan oleh sang adik untuk keperluan sehari-harinya.

Hingga pada suatu ketika datanglah surat yang isinya menagih harap atas apa yang selama ini dilabuhkan lewat kiriman paket yang dialamatkan kepada Syaikh Mahfudz. Tentu saja hal tersebut membuat kaget Syaikh Mahfudz. Bila menerima, hatinya tidak terpaut krentek sedikitpun. Bila tidak, berat rasanya menolak keinginan sang guru. Setelah lama merenung dan ikhtiar melalui istikharah, akhirnya Syaikh Mahfudz merespon permintaan tersebut dengan cukup cerdas dan masuk akal.

Dalam surat balasannya, belaiu sampaikan kepada Mbah Kyai Soleh, bahwa beliau tidak menolak apa yang menjadi keinginan sang guru, tapi karena maksud dari kiriman yang selama ini ditujukan kepadanya agar kelak mau diambil menantu, maka si penerimalah yang harus rela menjadi menantu sang guru, yang tak lain adalah adiknya sendiri, Syaikh Dahlan. Syaikh Mahfudz kemudian menitipkan surat tersebut kepada adiknya untuk disampaikan kepada Mbah Soleh, saat Syaikh Dahlan bersama kedua adiknya, Mbah Kyai Dimyathi dan Kyai Abdurrazzaq pulang ke tanah air. Belaiu hanya berpesan, agar Syaikh Dahlan untuk tetap tinggal di Semarang dan kembali belajar di tempat gurunya tersebut, tanpa mengetahui maksud terselubung kakaknya.

Setelah surat balasan sampai di tangan Mbah Soleh, akhirnya sang guru dengan lapang harus menerima suratan takdir, menjadikan Syaikh Dahlan sebagai menantu beliau.
Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Masade Ahmad

Diadaptasi dari cerita pengasuh Pondok Tremas Pacitan KH Fuad Habib Dimyathi, dari (Alm) KH Harir Muhammad Mahfudz, Betengan Demak.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here