Home Nusantara Sosial Miskin Seniman, Pelatih Rontek Didatangkan dari Luar Daerah

Miskin Seniman, Pelatih Rontek Didatangkan dari Luar Daerah

1162
5
SHARE

Pache News, Pacitan- Festival rontek Pacitan tahun 2017 resmi dibuka Bupati Indartato di depan tugu 0 kilometer Pacitan, Senin malam (4/9. Sebagai pembuka, 12 grup rontek tampil memukau dihadapan ribuan pengunjung yang memadati jalan protokol, mulai jalan Ahmad Yani hingga jalan Jenderal Sudirman.

Mereka mengusung berbagai kreasi unik  yang menggambarkan budaya lokalitas Pacitan. Mereka beradu instrumen musik dari perpaduan musik tradisional dan modern. Selain itu, para penari dengan tariannya yang menawan menambah cantik penampilan mereka.

Festival rontek sendiri berlangsung selama 3 malam berturut-turut. Mulai 4 hingga 6 September 2017. Festival diikuti sebanyak 36 peserta. Mereka berasal dari 20 Desa Se-Kecamatan Pacitan. 5 Kelurahan se-Kecamatan Pacitan, dan 11 perwakilan Kecamatan se-Kabupaten Pacitan.

Namun dibalik kemegahan dan kemewahan Festival yang menjadi kebanggaan masyarakat Pacitan ini, ada potret buram yang sedang dialami seniman lokal. Pacitan ternyata miskin seniman.

Seniman di kota 1001 goa ini seolah tak menemukan ruang untuk menyalurkan proses kreatifnya. Sebab keberadaan mereka tidak begitu diberdayakan dalam gelaran Festival rontek ini.

Lihat saja, para pelatih rontek justru banyak didatangkan dari luar daerah, dan bukan diambil dari seniman Pacitan sendiri. Tak hanya itu, beredar kabar bahwa kreasi yang disuguhkan beberapa peserta rontek juga banyak didatangkan dari luar daerah lain.

“Kita sangat prihatin melihat kondisi ini. Seharusnya yang harus diberdayakan adalah seniman Pacitan sendiri. Kita yakin kok seniman lokal juga banyak yang bisa,” cetus Wibowo Wilujeng, pegiat seni di Pacitan saat berbincang dengan Pache News, Selasa siang (5/9).

Dia meyakini, sebenarnya kualitas seniman Pacitan tidak kalah kreatif bila dibandingkan dengan seniman dari luar. Seperti diketahui salah satu tujuan festival rontek adalah ajang untuk meningkatkan kualitas para seniman.”Lalu bagaimana para seniman lokal akan berkembang kreatifitasnya bila masyarakat saja sudah tidak memberdayakan mereka,”katanya dengan nada heran.

Dia berharap, masyarakat tumbuh kesadarannya untuk lebih memaksimalkan pontensi seniman lokal. Kedepan, menurutnya, harus ada pembatasan terkait perekrutan pelatih rontek dari luar.”Dari panitia harus bisa merubah ketentuan Festival. Tujuanya untuk menjaga seniman lokal,” ujarnya.

Seperti diketahui, anggaran yang dikeluarkan untuk mendatangkan pelatih dari luar dan membuat kreasi juga tidak sedikit.”Kalau kita memakai pelatih dari lokal. Maka anggaran untuk latihan dan kreasi bisa lebih hemat kan?” tukasnya.(Zaenal Faizin)

5 COMMENTS

  1. Kami laska gempar menggunakan kreasi kami sendiri utuk menentukan aransement dan konsep yang kami sajikan

  2. Sungguh suguh maaf kreasi yang dipanjang pada gambar atas itu adalah Murni hasil kreasi dan rontek anak anak desa tremas. Tampa menggunakan atau menyewa.

  3. Tolong hargai karya kreatifitas kami….itu semua murni dari DESA TREMAS KECAMATAN ARJOSARI
    “RONTEK PUTU KETHOK JENGGOT”
    Haruskah foto artikel tersebut dari rontek kami??
    Mohon maaf tidak mengurangi rasa hormat dari kami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here