Home Kolom Bunuh Diri dengan Memberhalakan Wacana

Bunuh Diri dengan Memberhalakan Wacana

147
0
SHARE

Menyembah berhala wacana merupakan cara terbaik untuk bunuh diri – Semua manusia hanya sanggup menciptakan “Paradigma” kebenaran, bukan wajah kebenaran itu sendiri; hanya bisa meraih fakta, bukan realitas.

Thomas hun meluncurkan karya fenomenal di tahun 1962, The structure of Scientific Revolution, beliau menghajar Positivisme yang sangat memberhalakan “Kebenaran tunggal” (single truth) , dikarenakan Paradigma atau wacana yang diagubg-agungkan adalah sebuah kebohongan berdasar ego saja.

Paradigma yang disoroti sebagai pisau antitesis paling tajam; dipuja-puja; didewa-dewakan; dan dianggap sebagai kebenaran objektif oleh kaum positivis hanyalah kekosongan bagai tong kosong. “Kebenaran objektif tidak pernah ada, yang ada hanyalah Paradigma atau wacana tentangnya, sebuah wacana tidak lebih dari sebuah kesepakatan paham dalam sebuah komunias masyaakat,” kata Khun.

Kaum pemikir kontemporer seperti Thomas Khun, Karl Popper dan Ian G. Barbour, menolak pemberhalaan wacana kebenaran objektif yang serba tunggal. Salah satu dampak dampak serius pemberhalaan wacana di tengah prularisme ialah lahirnya “Sikap under estimate, inferior, dan negasi”. Orang yang berbeda dengan dengan kelompok wacana tertentu rentan diintimidasi sebagai orang lain yang absurd, sesat, dan bermasalah. Lahirlah perbedaan-perbedaan antara orang yang meletakkan wacana sebagai “Kebenaran objektif” dengan “Kebenaran Paradigmatik”. Yang satu berwatak ngotot, dan yang satunya lagi berwatak ramah.

Terlihat jelas bahwa sikap meletakkan wacana sebagai kebenaran objektif masih menjadi budaya dan mendarah daging di setiap tempat, contoh kecil pemberhalaan wacana yang menderu dalam tubuh agama dalam rupa paling primitif; dari kekerasan imani hingga kekerasan fisik, padahal secara konstitusional kita semua dilindungi oleh pancasila yang mengakui keragaman agama.

Saksikan pula dalam ranah politik, bagaimana faksi-faksi itu saling menyikat dan menyikut untuk saling mengunggulkan “wacana objektifnya, padahal jelas secara konstitusional kita menganut demokrasi pacasila yang menghormati trias politika.

Sikap Legawa (meletakkan wacana sebagai kebenaran paradigmatik) akan meyelamatkan diri kita dari invasi-invasi yang memberhalakan wacananya. Perlunya menyamakan presepsi tanpa mendewakan wacana kebenaran objektif akan menyelamatkan kekokohan persatuan sebuah komunitas masyarakat; ideologi kita pancasila. Bayangkan bila semua orang di bangsa ini memiliki sikap Legawa tersebut, kesatuan bangsa kita terdapat dalam Pancasila.

Tomy, Kader PMII Pacitan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here