Home Kolom Manifesto Kegilaan Persepsi Manusia Berkehidupan

Manifesto Kegilaan Persepsi Manusia Berkehidupan

34
0
SHARE

Kegilasan ini semakin menjadi kegilaan berfikir tentang apa arti kehidupan. Tanpa keluar dari koridor kodrat yang diberikan tuhan kepada makhlunya. Manusia diberikan keistimewaan berpola pikir menyebabkan cara pandang setiap individu berdeda – beda. Pemahaman tentang bahasa manusia akan mentafsirkan dengan persepsi – persepsi yang diakibatkan oleh faktor – faktor mereka dilahirkan, mulai dari lingkungan, teman bergaul, pendidikan, budaya yang melekat pada jiwa setiap individu. Sehingga menentukan jalan hdup setiap individu sebagai manusia makhluk sosial.

Identitas manusia sebagai makhuk sosial menuntut arah kehidupan tidak bisa terlepas dari pengaruh antara manusia dan manusia lainya. Pengaruh yang memiliki esensi simbiosis muatilisme ini sering kali salah ditafsirkan oleh setiap individu, prasangka buruk sesama manusia menjadi kebiasaan yang tidak lepas di setiap nafas kehidupanya. Maka kesadaran untuk mengakui bahwa kesalahan pribadi lebih fatal dari pada kesalahan orang lain hampir lenyap di telan nafsu mempertahankan tafsiran bahasanya. Anggapan paling benar dibenak setiap individu ini akan tidak pantas manusia sebagai manusia makhluk sosial.

Akankah lebih pantas ketika para manusia bersama – sama merenung bahwa setiap langkah kita adalah kesalahan nafsu belaka. Sampai kapan kita akan menjadi tokoh manusia, ketika kita tidak mengakui kemunafikan ini. Apakah mustahil niatan menjadi manusia sejati, mehilangkan egosentris dalam hati yang mendalam, Apakah menjadikan kita tidak bisa bertahan hidup ?. Mungkin sangat konyol ketika kita tidak bisa hidup karena tidak bisa mempertahankan eksistensi belaka. Maka sangatlah mulia ketika menyadari esensi kehidupan cukup dengan bertahan hidup.

Tanpa hilang rasa hormat sebagai tokoh manusia akan menyadari semua hal ada hubunganya dengan setiap perjalanan hidup ini. Bahwa eksistensi akan menunjang keberhasilan esensi, dengan kata lain keduanya harus saling berhubungan. Melihat dari sudut pandang fakta kita lupa dengan tujuan prioritas beresensi yang di sukseskan oleh eksistensi. Kita berbalik arah bahwa yang melakuan kegiatan terbaik yaitu eksistensi, sehingga menimbulkan salah sikap yang awalnya keduanya harus saling berjalan beriringan menjadi sikap egosentris untuk menjunjung tinggi eksistensi tanpa ingat dengan esensi.

Sahabat – sahabat manusia hidup kita akan ditentukan oleh setiap individu. Tetapi kita terpengaruhi oleh keadaan yang hanya eksistensi belaka, nasib apa  arti sebuah kehidupan. Kita sibuk dengan keegoisan tujuan pribadi semata, tanpa menghiraukan tujuan orang lain. Apa kehancuran yang menjadi cita – cita bersama ketika tujuan baik selalu kita artiakan sebagai penghalang tujuan pribadi. Mari merenung bersama kemunafikan yang telah berlalu sebagai niatan perubahan yang lebih baik, yang memungkinkan kehidupan ini berarti.

Agus Purwanto, Kader PMII Pacitan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here