Home Nusantara Sosial IPNU-IPPNU Pacitan Nilai Perayaan Kelulusan dengan Coret-coret tidak Elok

IPNU-IPPNU Pacitan Nilai Perayaan Kelulusan dengan Coret-coret tidak Elok

80
0
SHARE

Kelulusan tingkat SMA sederajat adalah sebuah momen yang di tunggu-tunggu oleh semua siswa-siswi yang akan menyelesaikan sekolah, dan akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau mencari pekerjaan yang di inginkan.

Untuk itu kami dari Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Kabupaten Pacitan menghimbau kepada siswa-siswi yang baru selesai melewati Ujian Nasional Berstandar Komputer (UNBK) beberapa minggu yang lalu, dan akan mendapatkan hasil akhir pada hari kamis tanggal 3 Mei 2018 untuk tidak berlebihan dalam merayakan kelulusan, seperti konvoi dan aksi coret-coret seragam sekolah.

Konvoi dan aksi coret-coret seragam sekolah itu budaya yang sangat buruk dan harus di tinggalkan, kami dari PC IPNU dan PC IPPNU tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan, dan budaya buruk ini jangan sampai di lakukan oleh pelajar millenial pada tahun ini serta tahun-tahun yang akan selanjutnya, tutur ketua IPPNU Kabupaten Pacitan.

Ketua PC IPNU Mawan Hardianto menambahkan, siswa-siswi yang telah selesai mengikuti UN lebih baik melakukan kegiatan kelulusan yang positif daripada menghabiskan waktu untuk hal-hal yang negatif yang tidak ada manfaatnya sama sekali serta banyak rugi nya, seperti konvoi dan coret-coret seragam sekolah.

Sebaiknya seragam sekolah para siswa dikumpulkan untuk di bagi ke adik-adik siswa lainnya atau ke para kaum miskin lainnya. Dalam pembelajaran, para siswa juga di ajarkan karakter dan jatidiri untuk mengembangkan semangat solidoritas antarsesama. Karenanya, hal itu perlu dibuktikan dengan aksi nyata memberikan seragam ke siswa lain atau ke pihak yang membutuhkan, tidak malah di rusak dengan aksi coret-coret. Dan juga bisa di tambah dengan sujud syukur serta merayakan dengan positif dan bermanfaat bagi diri sendiri serta orang lain, hal itu akan lebih baik dan bermoral dibanding dengan aksi coret-coret. Ungkapnya.

Lantas, mengapa merayakan kelulusan tingkat SMP dan SMA harus dengan coret-coret dan berkonvoi? Apakah benar ujian nasional tersebut sangat membebani hingga membuat stres sehingga selesai ujian dan dinyatakan lulus harus dirayakan dengan aksi coret-coret dan konvoi? Apakah aksi coret-coret dan konvoi adalah bagian dari proses pendidikan yang dibenarkan di era millenial ini? Bukankah pendidikan itu adalah proses panjang yang harus diselesaikan secara tahap demi tahap untuk menghasilkan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya?

Sebuah ungkapan Latin mengatakan seperti ini, “Non Scolae Sed Vitae Discimus” yang artinya kurang lebih: “Kita belajar bukan hanya untuk sekolah, melainkan untuk Hidup”. Jadi pendidikan itu adalah proses panjang yang tidak pernah berhenti. Sekolah dan pendidikan formal hanyalah sarana dan syarat untuk menapaki jenjang pendidikan yang sudah diatur oleh Undang-Undang agar sebuah generasi yang ditamatkan memiliki syarat untuk bekerja atau kembali belajar ke jenjang yang lebih tinggi.

Sementara ujian, baik itu ujian sekolah maupun ujian nasional berpijak pada dasar hukumnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 3 Tahun 2017 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar Oleh Satuan Pendidikan, adalah murni untuk mengetahui sampai dimana kemampuan siswa setelah mengenyam pendidikan secara berkala. Dan hasil ujian tersebut menjadi syarat kelulusan dengan mengikuti ujian nasional, ujian sekolah berbasis nasional dan ujian sekolah. Sehingga kata kelulusan bagi mereka, tidak harus dirayakan dengan berlebihan karena ujian akhir tersebut hanya syarat bagi mereka untuk mendapatkan hak lulusan setelah tiga tahun menyenyam pendidikan dengan baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here