Beranda Warta Regional ANAK KORBAN PENGEROYOKAN PERTANYAKAN KESERIUSAN POLSEK DUKUHSETI PATI

ANAK KORBAN PENGEROYOKAN PERTANYAKAN KESERIUSAN POLSEK DUKUHSETI PATI

556
0
Surat Kepolisian

Pachenews.com – Setelah hampir satu bulan tanpa kejelasan proses hukum, Polsek Dukuhseti melayangkan surat pemberitahuan kepada korban perihal perkembangan proses penyidikan kasus pengeroyokan terhadap anak dengan korban Dani Prasetyo (14 th), siswa SMP N 2 Tayu.

Surat pemberitahuan dengan No. B/15/1/2016/Sekt. Dkst. yang ditandatangani oleh Inspektur Satu Sunaryo, SH, NRP. 61120367, menjelaskan secara gamblang bahwa Kepala Desa Dukuhseti, Sukarji belum dapat ditetapkan sebagai tersangka karena kurangnya alat bukti yang cukup, tetapi sudah dimintai keterangan sebagai saksi.

Korban yaitu Dani Prasetyo (14 th), merasa aneh dengan surat dari Polsek Dukuhseti tersebut, karena sejak awal, dirinya merasa bahwa satu-satunya orang yang dikenali adalah Kepala Desa tersebut yaitu SKJ. Hal tersebut sangat beralasan karena SKJ yang memegangi kerah bajunya, saat terjadi pengeroyokan dan pembacokan tersebut.

Penampilan SKJ yang cukup mencolok, yaitu berkacamata dan memakai baju warna hitam, yang tentu saja sangat sulit dilupakan oleh korban. Kata-kata kasarnya yang diucapkan SKJ saat memegangi krah bajunya, masih teringat karena korban mengalami trauma yang mendalam.

Semua fakta tersebut telah disampaikan korban kepada Kepolisian sehingga aneh apabila justru orang lain yang ditetapkan sebagai tersangka dan SKJ hanya sebagai saksi.

Penetapan tersangka yang hanya berjumlah 2 orang juga dinilai janggal oleh orang tua korban, karena menuut banyak saksi baik dari saksi korban maupun saksi mata jumlah pengeroyok sekitar 20 orang.

Korban dan keluarga korban, sangat berharap hukum dapat ditegakkan dan memberikan rasa keadilan, meskipun keluarga korban merasa dirinya bukan merupakan orang yang punya banyak uang banyak.

Pachenews.com menanyakan pada seorang hakim di lingkungan Jawa Tengah untuk mengomentari bobot kesaksian korban yang terjadi pada kasus Dani Prasetyo. Meskipun tidak bersedia dipublikasikan identitasnya sebagai konsekuensi atas etika hakim, bahwa bobot kesaksian korban mengenai siapa pelaku memiliki derajat yang cukup tinggi dalam sebuah kasus. Apalagi bila terindikasi sebagai pelaku, lebih jauh bahkan hanya tindakan bersama-sama saja sudah dianggap melawan hukum.

Salah seorang aktivis LBH yang pernah aktif di Pati dan sekarang sedang kuliah di S3 Ilmu Hukum UNS juga menyampaikan keanehan mengenai hal ini. Semestinya penyidik tidak mengabaikan kesaksian saksi korban. Menurutnya, dalam peristiwa perkosaan atau asusila, seringkali saksi kejadian hanya berasal dari korban, sehingga disitulah arti penting kesaksian korban.

Lebih jauh dia berharap bila terjadi indikasi pembelokan kasus, maka semestinya keluarga korban harus segera melaporkan pada Propam Mabes Polri, atau setidaknya ke Propram Polda Jawa Tengah. Menurutnya memang keadilan hukum seringkali harus diperjuangkan, karena hukum seringkali tajam ke bawah, tetapi tumpul keatas. Penyimpangan hukum seringkali mudah terjadi dan menjadi tumpul ketika berhadapan dengan orang yang memiliki banyak uang dan kekuasaan. Kepala desa seringkali juga dianggap sebagai orang yang berkuasa dan punya banyak uang, sehingga hukum seringkali lebih memihaknya dibandingkan rakyat kecil yang tidak berdaya. (Lis)

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.