Beranda Warta Regional Hutan Dukuh Seti di Dukuhseti Pati Dikelola Investor Besar Selama Bertahun-tahun

Hutan Dukuh Seti di Dukuhseti Pati Dikelola Investor Besar Selama Bertahun-tahun

432
0
Hutan Dukuhseti

Pachenews.com – Dua ribuan hektar hutan di Dukuhseti mengalami penjarahan besar-besarnya pada sekitar tahun 1997-1998 saat terjadi pergantian rezim orde baru ke reformasi.

Sejak penjarahan itulah maka Perum Perhutani melakukan penanaman kembali dengan tanaman utama meliputi jati dan beberapa tanaman keras lainnya. Sambil melakukan penanaman hutan dengan tanaman utama, Perhutani juga mempersilahkan masyarakat sekitar hutan untuk menggarap hutan dengan bertanam tanaman tumpangsari. Masyarakat di desa Dumpil, Ngagel, Grogolan, Dukuhseti, Tegalombo, Wedusan dan Puncel merupakan masyarakat yang dipersilahkan untuk menggarap hutan dengan tanaman tumpangsari.

Pada kenyataannya niat baik Perhutani tersebut banyak disimpangkan oleh pengelola. Kesibukan usaha di luar pertanian menjadikan mereka tidak lagi sempat untuk mengelola lahan hutan tersebut, sehingga menjual hak pengelolaan tersebut pada investor-investor yang secara intensif mengelola lahan hutan untuk ditanami tanaman tebu.

Akibat pola seperti itu, seorang investor ada yang mengelola puluhan sampai ratusan hektar. Sebagai contoh, H. A (47th) seorang petani tanaman ketela pohon mengelola sampai lebih dari 50 hektar lahan, secara bertahun-tahun.

Entah kebetulan atau disengaja, sebagian besar tanaman utama yang berada di lahan yang dikelola investor besar tersebut ditebang dan dicuri. Lahan menjadi nampak tidak ada tanamannya, karena setiap ditanami, maka tanamannya selalu ditebang kembali. Perusakan tanaman utama dimungkinkan agar tanaman ketela pohon yang menjadi tumpang sari dapat terus tumbuh tanpa terhalangi oleh tanaman utama.

Perhutani selanjutnya pada tahun 2004, membangkitkan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), agar pengelolaan menjadi lebih baik. Pada kenyataannya pendirian LMDH hanya menjadi stempel bagi terakuinya para pengelola hutan dan perusak hutan dalam wadah LMDH.

LMDH ini pada kenyataanya hanya dijalankan oleh beberapa orang investor, karena hutan memang hanya dikelola oleh segelintir orang bermodal besar.

Perhutani semestinya harus mengetahui kondisi tersebut, tetapi sepertinya seakan-akan kurang berdaya, atau bahkan tidak berdaya.

Menurut beberapa sumber, terdapat beberapa keputusan yang menyatakan pelarangan penanaman tanaman ketela pohon di lahan hutan, tetapi karena kekuatan modal dan keuntungan yang cukup tinggi pada tanaman ketela pohon, keputusan-keputusan itu menjadi tidak efektif untuk dijalankan.

Inilah yang menjadikan hutan di Dukuhseti Pati sulit untuk dihutankan kembali, sehingga berdampak pada lingkungan sekitarnya. Kekeringan sering melanda di desa-desa sekitar hutan saat musim kemarau, yang kemudian diikuti oleh intrusi air laut pada air tanah. Penduduk desa di sekitar hutan yang dekat dengan pesisir pantai, sumurnya menjadi asin, sehingga harus membeli air tawar dari tangki-tanki air.

Semestinya pemerintah harus merespon kondisi ini, agar tidak berlarut-larut, karena terbukti Perhutani di Dukuhseti Pati tidak mampu menghutankan kembali hutan yang luasnya mencapai lebih dari dua ribu hektar.

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.