Beranda Uncategorized Hari Santri dan Pesan Menyejukkan Kiai Haji Fuad Habib Tremas

Hari Santri dan Pesan Menyejukkan Kiai Haji Fuad Habib Tremas

333
1
Kiai Haji Fuad Habib Tremas

Satu hal yang sangat saya sesali sebagai santri ketika di pesantren adalah “terlambat” mencatat isi pangendikan atau pesan yang disampaikan oleh kiai dan guru-guru saya ketika ngaji. Saat itu saya lebih banyak mendengarkan. Tidak pernah menulisnya. Apa yang didengar itupun hanya masuk kuping kanan dan keluar lewat kuping kiri alias tidak bisa mengingatnya sama sekali.

Padahal saat itu, saya pernah diajar langsung oleh Kiai Haji Fuad Habib, yang notabene adalah pengasuh pesantren Tremas. Kesempatan mengikuti pengajian yang diampu langsung oleh kiai adalah sebuah pengalaman yang berharga. Tidak semua santri bisa mengikutinya. Hanya santri kelas akhir (santri asrama Al Yamin) saja yang mendapat kesempatan itu. Itupun hanya seminggu sekali.

Kepada Kiai Fuad saya pernah mengkaji kitab Idhatunnasyiin, karya Syaikh Musthafa Al-Gholayani. Sebuah kitab yang menerangkan tentang ahhlak, keberanian dan nasonalisme. Karena kebodohan saya, saya jarang sekali mencatat apa isi pangendikan yang beliu sampaikan. Padahal tiap kali kiai mengajar kitab, banyak sekali pangendikan yang beliau sampaikan.

Pesan-pesan menyejukkan dan motivasi yang disarikan dari kitab yang beliau baca seakan melampaui kandungan isi kitab itu sendiri. Petuah kiai ibarat berlian yang tak ternilai harganya. Bila waktu itu saya mau mencatatnya, pasti sudah ada ratusan lembar catatan yang saya miliki.

Tapi kebodohan itu segera saya perbaiki. Setelah lulus dari Madrasah Aliyah saya pun mulai sadar betapa pangendikan kiai begitu berharga. Akhirnya saat ada kesempatan menyimak pidato kiai, maka saya berusaha untuk mencatat atau merekamnya lewat perangkat handphone.

Dari kumpulan pangendikan itu, biasanya saya catatkan hari dan tanggal serta dalam momentum apa kiai ngendikan. Itu semua agar menjadi penanda bila kiai pernah perpesan seperti ini dan dan dalam momen ini.

Momen kiai Fuad berpidato di hadapan santri Tremas, saya kira bisa dihitung dengan jari. Setahun tidak lebih dari lima kali. Hanya di acara tertentu saja, seperti maulid Nabi, Isro’ Mi’roj, acara haul di Semanten dan pada momen wisuda santri.

Kesadaran untuk menulis isi pidato kiai semakin tumbuh saat saya terjun di dunia jurnalistik dengan bergabung menjadi salah satu bagian dari NU Online. Saat kiai Fuad berpidato di atas podium, saya berusaha untuk mendekat dan menyimak apa isi pesan yang kiai sampaikan.

Kita tahu, Kiai Fuad bukanlah kiai panggung yang kerap diundang untuk berceramah, seperti para mubaligh itu. Kiai kurang begitu “kerso” berlama-lama di atas panggung. Sepanjang yang saya amati, pidato kiai paling lama antara 15-20 menit.Namun walaupun singkat, isi yang disampaikan sangat luar biasa dan langsung mengenai hati. Itulah diantara ciri khas dari Kiai Fuad.

Dari berbagai pangendikan yang pernah saya kumpulkan, sebagain besar isi pangendikan dari Kiai Fuad adalah tentang tata krama atau akhlak. Tentang bagaiman selayaknya menjadi seorang santri. Pesan semangat untuk tekun mengaji pesan kedamaian yang hendaknya dipelopori santri.

Beruntung era digital seperti sekarang ini menolong saya untuk dapat mengabadikan “pangendikan emas” yang pernah saya dengar langsung itu. Hasil kumpulan pidato itu kemudian beberapa diantaranya berhasil saya tulis dan saya publish di website atau media sosial.

Diantara petikan pangendikan kiai itu saya tulis dibawah ini. Barangkali petikan pangendikan ini akan berguna pada masa depan. Sebagai bentuk nasehat diri agar kita tidak kepaten obor.

Saya yakin pangendikan kiai akan tetap relevan walaupun kelak berganti zaman.

“Wong ngabekti ning alam dunyo ora ono sing paling apik kejobo ngabekti maring ngersane Gusti Allah SWT.

Berbaktilah kepada Allah dengan segala bentuk kewajibannya. Setelah itu berbaktilah kepada kedua orangtuamu, bapak dan ibumu. Sebab mereka berdualah yang telah menjadi sebab musababmu. Sehingga kalian menjadi orang yang mengerti syahadat, shalat, puasa, zakat. Bahagiakanlah kedua orangtuamu” (Tremas, 27 Mei 2016)

Dimanapun kalian berada dan bagaimanapun kalian adalah seorang santri. Predikat santrimu ora pisan-pesan lepas karo nyowomu (predikat santrimu jangan sekali-kali lepas dari nyawamu). Predikat santri yang identik dengan berahlakul karimah tidak akan akan pernah lepas dari kepribadianmu (Tremas, 25 Mei 2016)

“Santri itu berbicara yang teduh, santri itu yang ngayomi, santri itu yang lemah lembut yang sejuk, yang damai,” ((Tremas, 25 Mei 2016)

“Wujud daripada keimanan kita, Hubbul Wathan kita, rasa cinta kepada tanah air kita adalah ikut menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia” (Tremas, 6 September 2017)

“Jangan sekali-kali beranggapan bahwasanya dirasah, tadris, ta’lim ini selesai. Kalau kalian menganggap ta’lim tadris selesai, itu merupakan sebuah kebodohan bagi kalian. Sebab keilmuan itu tidak ada habisnya” (Tremas, 5 Mei 2018)

“Para santri berkatalah yang lembut, berkatalah dengan sopan santun. Yang menjadikan mereka (lawan bicara) tresno (cinta) kepada kalian. Yang menjadikan mereka angkat topi kepada kalian dan menjadikan kalian dihormati di kalangan masyarakat” (Tremas, 6 Mei 2018)

“Lebih dingin hati saya, lebih senang, lebih tenteram hati saya, bila ada alumni yang datang bersilaturrahmi kepada kami dan ngendikan “Alhamdulillah saya sudah mulai mengembangkan pendidikan Tremas di desa kami, alhamdulillah kulo sampun gadah momongan santri-santri lima anak, sepuluh anak”. Yang seperti inilah yang membikin hati kami dingin. Karena keinginan kami sesuai keinginan mereka” (Tremas,6 Mei 2018)

“Ojo pisan-pisan kok tinggalke sholatmu (jangan sekali-kali meninggalkan shalatmu). Ojo kok entengke sholatmu. (Jangan sekali-kali meremehkan shalatmu). Sing penting sholat. Dilakoni toto corone ( yang penting menjalankan shalat dengan melakukan tata caranya). Setelah itu kita pasrahkan shalat kita kepada yang maha kuasa. Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil alamin” (12 April 2018)

“Banyak sekali hikmah dan manfaat ziarah kubur itu. saya haqqul yaqin, orang-orang yang sering ziarah kubur itu jauh berbeda wajahnya, peraupanya, ahwaliahnya (tingkah lakunya) dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukan ziarah kubur.” (Makam Semanten, 1 Agustus 2016.)

“Suatu hal yang luar biasa ketika kita bisa bersama Rasulullah karena ketika Nabi Adam, semua nabi, semua rasul sudah tidak ada lagi yang sanggup memberi pertolongan hanya Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang memberi kesanggupan untuk memberi syafaat kepada kita.” (28 Robiul Awal 1435 H/ 29 Januari 2014)

“Subhanallah…tiada peringatan di atas muka bumi ini, tiada majelis di atas muka bumi ini, yang saya sayangi, yang saya cintai. Demikian banyak hari-hari istimewa di alam dunia ini. Tapi tidak ada hari yang istimewa bagi saya selain hari kelahiran Kanjeng Rosul. Subhanallah. (19 Desember 2018).

“Bahagiakanlah orang tuamu. Berakhlak, bertutur, dan bersikap dengan ahlak santri Ma’had Attarmasi. Yang sejuk, yang teduh, yang damai, yang penuh dengan wajah sumeh. Ora prengutan,” (Tremas, 6 Mei 2018)

“Oleh karena itu, status level ahwaliyah, aqwaliyah (sikap dan perkataan) lulusan Ma’had Aly, levelnya sangat tepat kalau diatas lulusan Aliyah. Bahkan harus lebih baik, terpuji dan menjadi uswatun hasanah bagi adik-adik santri lainya (Tremas, 5 Mei 2018)

“Santri adalah perwujudan dari mahluk di atas muka bumi ini, mahluk sing ngawet-aweti (membikin awet) jagad itu adalah santri. Karena santri itu penuh doa, penuh dengan shalawat, dan penuh dengan dzikir,” (Tremas, 22 Oktober 2018)

“Saya haqqulyakin. Yen awake dewe ngene iki (membaca shalawat) terus. Yakin haqqulyakin kanjeng nabi maringi syafaate ning awake dewe. (Tremas, 2 April 2019)

Dari yang saya tulis ini, baru beberapa saja. Masih banyak lagi pangendikan Kiai Fuad yang kami simpan hingga saat ini. Pangendikan kiai ibarat obat yang sangat mujarab untuk menyembuhkan kegaluan hati dan sebagai pengingat bahwa kita ini adalah seorang santri yang sikapdan tuturkatanya harus terus berada di jalurnya.

Bersyukur sekali saya pernah mengecap ilmu dari Kiai Fuad walaupun hanya sebentar. Sehat selalu kiai.

Selamat Hari Santri. Salam Ta’dhim

Zaenal Faizin

Batang, 23 Oktober 2020

Komentar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.